Pelatihan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja Untuk Dokter dan Bidan di Yogyakarta  

Dalam rangka pengembangan layanan kesehatan reproduksi ramah remaja untuk memenuhi kebutuhan remaja mendapatkan informasi dan layanan kesehatan yang ramah dan terbuka, Yayasan Siklus Sehat Indonesia (YSSI) dan UNFPA menambah jumlah tenaga kesehatan yang tergabung dalam jejaring UNALA. Upaya tersebut dilakukan dengan menyelenggarakan Pelatihan Kesehatan Reproduksi Remaja yang ditujukan kepada calon mitra UNALA. Dalam pelatihan ini, para dokter dan bidan calon mitra UNALA tidak hanya dibekali dengan materi seputar kesehatan reproduksi remaja, namun juga keterampilan komunikasi efektif dengan remaja sehingga diharapkan para tenaga kesehatan dapat membantu menyelesaikan tiap keluhan yang dikonsultasikan oleh remaja tersebut.

Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan selama tiga hari, yakni pada tanggal 3 – 5 Agustus 2018 bertempat di Hotel Indies, Prawirotaman, Yogyakarta di ikuti oleh 31 calon mitra UNALA yang terdiri dari dokter, bidan dan klinik se DIY. Para peserta pelatihan dibekali dengan pengetahuan tentang isu kesehatan reproduksi remaja dan juga disabilitas, kesetaraan gender, HIV dan AIDS, IMS, pencegahan terhadap kehamilan yang tidak direncanakan hingga advokasi ketika terjadi kekerasan seksual terhadap remaja.

Hari pertama pelatihan, materi yang dipaparkan antara lain Kesehatan Reproduksi Remaja oleh dr. Lucia, salah seorang dokter yang telah berjejaring sejak awal UNALA berdiri. Pada kesempatan ini dr. Lucia berbagi tips seperti apa menyampaikan informasi kesehatan reproduksi kepada klien dengan pendekatan ramah remaja, seperti tidak menghakimi dan tidak memberi penilaian negatif atau stigma. Kemudian materi dilanjutkan dengan Bulliying Remaja yang disampaikan oleh Indana Laazulva, seorang pemerhati anak dan remaja yang juga concern pada aktivitas parenting.

Pada hari kedua pelatihan, peserta diperkenalkan dengan Ibu Nurul Saadah dari SAPDA ( Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak) yang memaparkan materi tentang Kesehatan Reproduksi dan Disabilitas. Disini dijelaskan bahwa kesehatan reproduksi kelompok difabel sama dengan orang pada umumnya, karena mereka memiliki organ dan fungsi yang sama sehingga tidak ada perbedaan fungsi pada organ reproduksinya. Difabel juga memiliki hak yang sama dengan orang lain yang memiliki hasrat seksual, perilaku seksual, ekspresi gender dan sebagainya. Menjelang siang hari, paparan informasi dilanjutkan oleh Dinas Kesehatan DIY yang diwakili oleh Ibu Sutarti, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinkes DIY, tentang Situasi, Kebijakan dan Program Kesehatan Remaja di DIY. Dalam materi ini Ibu Sutarti membahas tentang statistik remaja di tingkatan nasional, terhadap kecenderungan ingin bunuh diri dan memiliki pengalaman pernah di-bully. Materi yang ketiga adalah Seksualitas Remaja dan Gender yang disampaikan oleh dr. Asti Widhiastuti, seorang konsultan independen untuk UNICEF. Materi ini dibuka dengan menonton film animasi Impossible Dream yang kemudian diteruskan dengan diskusi soal pembagian peran keluarga yang tergambar dalam film tersebut. Film tersebut memotret situasi bias gender di dalam masyarakat seperti beban kerja ganda pada perempuan dan upah yang tidak setara, pelecehan seksual pada perempuan dan lain-lain. Materi di hari kedua ditutup dengan pemaparan Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual dan HIV oleh dr. Suharno.

Pemberian keterampilan konseling dengan remaja disampaikan oleh psikolog Tri Novita Herdalena, yang biasa juga biasa dipanggil Novi, seorang alumni Psikologi UGM. Ibu Novi, memaparkan materi tentang komunikasi interpersonal yang efektif dalam pelayanan kesehatan reproduksi remaja. Sesi dilanjutkan dengan materi tentang Layanan Kesehatan Ramah Remaja & Sistem Rujukan oleh dr. Evita, yang juga bagian dari dokter jejaring UNALA yang telah lama bergabung.

Pemaparan Keterampilan Konseling Dasar oleh ibu Novi kembali dilanjutkan, kali ini dielaborasikan dengan simulasi praktik teknik konsultasi yang ramah remaja oleh para peserta. Dibantu oleh volunteer UNALA yang berperan sebagai klien remaja, para dokter dan bidan praktik memberikan konseling kepada remaja yang datang dengan beragam keluhan.

Pemaparan materi ke lima yaitu tentang Penyalahgunaan NAPZA oleh dr. Riska Novriana, seorang dokter yang saat ini aktif memberikan pelayanan konsultasi secara daring kepada remaja melalui customer line UNALA. Praktik teknik konseling ini dilakukan sebagai bagian dari upaya UNALA untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi remaja.

Para calon mitra UNALA diharapkan dapat memberikan konsultasi dengan pendekatan yang ramah remaja berbekal informasi hak-hak kesehatan reproduksi remaja, memiliki perspektif kesetaraan gender, dan juga isu HIV dan AIDS, IMS, serta penanganan kehamilan tidak direncanakan.