Menyoal Fakta Ghosting dalam Sebuah Hubungan

#UNALAfact

Oleh: Septia Annur Rizka


Masih melanjutkan topik pembahasan terkait ghosting. Kali ini kami akan lebih perjelas dari sebelumnya. Nah, kata ghosting berasal dari bahasa Inggris yaitu “Ghost”, yang memiliki arti hantu. Sebagaimana ulasan kemarin lalu, kami tidak akan membahas perihal hantunya, melainkan lebih pada perilakunya.

Ghosting sendiri merupakan tindakan memutuskan hubungan dengan cara memutus semua akses komunikasi tanpa penjelasan sebelumnya. Hal ini bisa terjadi dalam relasi romantis seperti masa-masa pdkt, pacaran, maupun pernikahan.

Mengapa tindakan sedemikan itu disebut ghosting? Sebab, perilaku seperti itu hampir menyerupai sosok hantu yang datang tanpa diundang, pergi pun tanpa pamit, atau menghilang dengan seenak dan sesuka hatinya. Jadi tak heran ya, perilaku tersebut disamakan dengan hantu.

Fakta Mengenai Ghosting

Sebagaimana yang ditulis oleh livescience.com, perilaku ghosting sudah ada sejak munculnya interaksi antar manusia. Hanya saja, istilahnya baru popular di era digital seperti saat ini. Sedangkan menurut Collins, secara psikologi, ghosting adalah sebuah cara yang umum digunakan untuk menyudahi suatu hubungan, terutama di era digital. Selain itu, sering pula terjadi dalam bentuk komunikasi-komunikasi digital yang jenisnya beragam tersebut.

Dilansir dari huffpost.com, ghosting dinilai sebagai cara terburuk dan pengecut dalam mengakhiri suatu hubungan. Perilaku ini seringkali menimbulkan pertentangan-pertentangan dari banyak kalangan. Sebab memiliki efek atau dampak yang tidak ringan dan tidak mudah bagi si korbannya. Menurut para pakar kesehatan jiwa, ghosting sendiri dianggap sebagai bentuk dari kekejaman atau kejahatan emosional.

Penyebab atau Pemicu Perilaku Ghosting

Menurut Vilhauer, penulis buku “Think Forward to Thrive: How to Use the Mind’s Power of Anticipation to Transcend Your Past and Transform Your Life”, salah satu alasan terjadinya ghosting yaitu karena pihak pelaku ingin mneghindari ketidaknyamanan emosionalnya sendiri. Namun ia kerapkali tidak berpikir tentang perasaan lawannya pada saat itu.

Dampak atau Akibat dari Perilaku Ghosting

Setelah mengetahui penyebabnya, maka kami akan membahas terkait dampak dari perilaku ghosting. Berikut beberapa dampak yang ditimbulkan:

  • Munculnya perasaan tidak dihargai, tidak berguna, dan terbuang. Apalagi ketika ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Hal ini juga bisa memicu banyak hal, terutama rasa sakit pada bagian otak sebagaimana sakit pada bagian fisik.
  • Tindakan menyalahkan diri sendiri akibat hilangnya rasa kepercayaan diri. Hal ini terjadi karena si korban tidak tahu alasan ia ditinggalkan. Selain itu, ia pun akan terus-terusan mencari jawaban yang tak kunjung ditemui.
  • Tekanan psikologis. Luka batin pasti ada, dan itu tidak menutup kemungkinan akan membekas. Walaupun bisa hilang secara perlahan dan butuh waktu yang tidak sebentar pula.

Nah, sekian dulu ya penjelasan dari kami, sebab masih ada satu ulasan lagi yang berkaitan dengan ghosting. See you sobat!

Referensi:

livescience.com
huffpost.com
tirto.id