Yuk, Mengenal Body shaming!

#UNALAcare

Oleh: Maulidya Risne Andini

“Banyak orang meremeh kan body shaming karena dianggap hanya bercandaan. Padahal ini dapat mengarah pada diskriminasi,” ujar Kak Anindya Restuviani dalam #UNALAtalk

Agar sobat UNALA semakin aware terhadapt body shaming, yuk kita mengenal lebih jauh sehingga dapat menjaga perasaan lebih bayak teman-teman lainnya!

APA ITU BODY SHAMING?

Perilaku yang tidak diinginkan yang menyerang penampilan seseorang baik terhadap bentuk tubuh,

warna kulit, tekstur wajah dan hal lainnya yang melekat pada tubuh seseorang.

APA PENYEBAB BODY SHAMING?

  1.       EKSPEKTASI GENDER
  •       Bentuk pengharapan masyarakat atas perilaku maupun penampilan berdasarkan identitas jenis kelamin mereka. Misalnya saat seseorang terlahir berjenis kelamin laki-laki, maka masyarakat mengharapkan bahwa mereka menjadi sosok yang kuat, tidak pernah menangis, dan sebagainya.
  •       Jika ada seseorang dengan jenis kelamin tertentu namun ekspektasi gendernya tidak sesuai dengan apa yang masyarakat harapkan akan dibilang ‘aneh’. Misalnya ketika seorang laki-laki menangis, maka akan dianggap ‘cemen’

  1.       STANDAR TUBUH IDEAL
  •       Ciri – ciri tubuh atau penampilan yang dianggap “menarik” atau dapat diterima oleh masyarakat sehingga jika tidak memenuhi standar tersebut, maka akan diberikan komentar jahat mengenai tampilan fisiknya.
  •       Di Indonesia, standar tubuh ideal masih sama seperti dunia internasional: perempuan yang cantik itu yang putih, kurus, langsing, hidung mancung. Laki-laki yang ganteng itu tinggi, badan kekar, hidung mancung, dan lain-lain. Hal demikian inilah yang saling memengaruhi tampilan tubuh ideal di media, misalnya produk pemutih, pelangsing maupun penambah berat badan.
  •       Tidak hanya itu, ada anggapan salah terkait bentuk tubuh dan seksualitas, misalnya seseorang yang memiliki rambut-rambut halus di tubuh disebut sebagai soerang yang memiliki keinginan seksual yang berlebih.

  1.       PATRIARKI
  •       Standar ideal tubuh yang ada di dunia sekarang dibentuk guna memenuhi hasrat seksual mereka yang berkuasa, dimana di dunia patriarki adalah laki – laki heteroseksual;
  •       Di Indonesia konsep standar tubuh ideal tidak luput dari pengaruh penjajahan yang juga kental dengan konsep patriarki, misalnya standar ideal tubuh yang tinggi dan putih lebih mendekati orang-orang Belanda, bukan seperti orang Indonesia.

BENTUK-BENTUK BODY SHAMING

  1.       Verbal

Di mana ada banyak teman dan keuarga yang memberikan komentar-komentar terkait bentuk tubuh kita. Tidak hanya berupa hinaan, bentuk verbal ini kerap berbentuk saran yang tidak diperlukan, misalnya, “Kamu kok gendut banget! Coba deh diet takut kolesterol!”

Padahal orang yang memberikan saran tersebut bukanklah seorang dokter ataupun tenaga kesehatan yang relevan, terlebih setelah memeriksakan diri, ternyata semuanya masih dalam batas normal.

  1.       Fisik

Body shaming tidak hanya berbentuk verbal tetapi juga dapat mengarah ke fisik, misalnya mencubit lengan kita sembari berkata, “Ih! Lengannya gede banget, deh!”

Tidak hanya itu, body shaming berbentuk fisik juga kerap menajdi objektifikasi seksual, terlebih terhadap perempuan sehingga hal ini menjadi lebih menakutkan.

Sumber: Diskusi UNALA Talk #9 “Stop Body shaming!” bersama Anindya Restuviani pada Sabtu, (22/8)