Fakta dan Modus Grooming yang Perlu Sobat Ketahui

#UNALAfact

Oleh: Maulidya Risne Andini


Tahukah sobat UNALA? kasus grooming ternyata nggak bisa dianggap sepele, lho! Data mencatat ada banyak kasus grooming yang terjadi dan patut kita waspadai bersama. Dengan mengetahui modus pelaku atau disebut groomer, kita dapat mencegah dan menghindarinya.

Apa kata data? 

  • 430.000

Kasus terlapor dikumpulkan oleh KOMNAS Perempuan di tahun 2019

  • 75,4% KASUS

Terjadi di ranah personal (rumah, hubungan romantis, pertemanan)

  • 2.341 KASUS

Kekerasan seksual terhadap anak perempuan (dibawah 18 tahun)

  • 2.807

Kasus kekerasan seksual di ranah personal yang merupakan orang terdekat korban (ayah kandung, paman, kakak, pacar)

  • 407 KASUS

Kekerasan seksual secara siber (Kekerasan Berbasis Gender Online, KBGO) yang dilaporkan ke Lembaga Layanan.

Siapa Saja yang Dapat Menjadi Korban? 

Siapa saja dapat menjadi korban grooming, walaupun memang terminologi ini lebih umum digunakan untuk kasus kekerasan seksual terhadap anak. Biasanya pelaku akan membangun kepercayaan tidak hanya kepada korban tapi juga orang terdekat korban. Maka dari itu, orang tua pun dapat

menjadi korban manipulasi melalui grooming ini.

Detail Modus

  • Anak yang memiliki kekurangan dukungan emosional atau tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tua pelaku berusaha meyakinkan orang tua bahwa anaknya aman dengannya dan mereka tidak akan pergi jauh-jauh. Pelaku menjadi sosok orang tua, pengasuh atau guru.
  • Anak dari orang tua tunggal atau broken home atau orang tua yang tidak mempu melakukan pengawasan  pelaku memberikan simpati kepada korban dan keluarga seakan-akan orang yang penuh kasih sayang.  Pelaku menjadi sosok orang tua, pengasuh, atau guru. Permainan, trik, aktivitas dan bahasa untuk memperdaya atau mendapat kepercayaan korban dengan cara membujuk, mengiming-imingi, memberikan hadiah/reward berupa materi, menyimpan rahasia (rahasia sangat berharga untuk anak dianggap sebagai sesuatu yang dewasa dan sumber kekuasaan), permainan eksplisit seksual, mendekatkan anak pada materi pronografi, pemaksaan, penyuapan, pujian, kasih sayang dan cinta. Pelaku berperan sebagai kakak, saudara, sahabat, kekasih.
  • Hasil dari kekerasan seksual diunggah secara online, pelaku mendapatkan kepuasan seksual dan atau manfaat ekonomi.


Sumber: Diskusi UNALA Talk #8 “Grooming: Modus Baru Kekerasan Seksual Terhadap Anak & Remaja” bersama Anastasia Sukiratnasari, S. H., M. H. dan Anindya Vivi pada Senin, (24/8)