Mengenal Gaslight, Salah Satu Bentuk Kekerasan Emosional

#UNALAcare

Oleh: Maulidya Risne Andini


Pernah nggak sih sobat UNALA mendengar ucapan seperti berikut?

“Kamu tuh anaknya drama banget, sih!”

“Kamu aja kali ah yang terlalu sensi.”

Semakin sering kamu mendengar ucapan seperti di atas, membuat kamu sering berpikir:

“Apa aku terlalu lebay, ya?”

“emangnya aku selera humornya nggak bagus, ya? Gini aja tersinggung!

—Contoh-contoh di atas merupakan salah bentuk gaslight yabg kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita mulai tak nyaman sikap dan perilaku seseorang, namun anehnya kita malah merasa bersalah(?)

Gaslight memang begitu! Ini merupakan salah satu bentuk kekerasan emosional. Bagaimana bias demikian? Yuk, kita simak bareng-bareng!

Pengertian Gaslight

Perilaku mengecilkan dan/atau menganggap remeh realita yang dirasakan oleh orang lain dengan menyangkal fakta, lingkungan di sekitar korban, serta perasaan korban. Korban Gaslight dimanipulasi dengan dibuat melawan dan/atau mempertanyakan realita yang mereka alami, perasaan yang mereka rasakan hingga eksistensi atas dirinya sendiri.

Dalam berbagai cara, Gaslight digunakan untuk ‘mengambil kontrol’ dalam sebuah hubungan dan menentukan relasi kuasa sehingga pelaku merasa bahwa dia memegang kuasa atas hubungan tersebut.

Gaslighting adalah salah satu bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang atau sekelompok orang jadi MEMPERTANYAKAN INGATAN, PERSEPSI DAN KEWARASAN kita. Perilaku ini  membuat kita MEMPERTANYAKAN REALITAS KITA di mana kamu meragukan keberhargaan dirimu, perasaan, dan juga pendapat dirimu sendiri.

Dampak Gaslighting

  1. Kamu meragukan keberhargaan dirimu;
  2. Kamu meragukan perasaan & pendapatmu;
  3. Kamu meragukan intuisi diri & minim keyakinan diri;
  4. Rentan melakukan tindakan self-harm sampai bunuh diri/keinginan mengakhiri hidup karena merasa tidak berharga;
  5. Rentan mengalami depresi klinis; dan
  6. Takut dan sulit berelasi dengan orang lain.


Sumber: Diskusi #UNALAtalk “Apa itu Gaslighting” bersama Anastasia Satriyo, M. Psi., Psikolog dan Anindya Restuviani pada Selasa, (25/8)