Fakta Sunat Perempuan yang Berbahaya

#UNALAfact

Oleh Maulidya Risne Andini


Masih ingatkah sobat UNALA tentang ruang lingkup kespro? Pencegahan dan penghapusan sunat perempuan termasuk dalam pencegahan praktik yang membahayakan seperti Female Genital Mutilation (FGM), lho!

Sunat perempuan dianggap sebagai cara yang ampuh untuk mengontrol hasrat seksualitas perempuan, menjaga kesucian dan kebersihan. Faktanya, sunat perempuan justru sangat berbahaya baik dari segi fisik maupun mental perempuan.

Pertama mungkin kita bahas dulu tentang apa itu sunat perempuan?

Sunat perempuan merupakan mutilasi alat kelamin perempuan – atau Female Genital Mutilation (FGM) – mengacu pada praktik pemotongan organ kelamin perempuan. Di Indonesia, praktik ini kerap disebut dengan istilah khitan perempuan, sirkumsisi atau sunat perempuan; dengan prosedur yang tentunya sangat beragam.

Bagaimana proses sunat perempuan terjadi?

  1. Menghilangkan bagian permukaan klitoris;
  2. Pengangkatan klitoris diikuti dengan pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari labia minora;
  3. Pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari organ genital luar diikuti dengan menjahit atau Menyempitkan lubang vagina (infibulasi);
  4. Menusuk, melubangi klitoris dan labia, atau merapatkan klitoris dan labia;
  5. Merusak jaringan di sekitar lubang vagina;
  6. Memasukkan sesuatu yang merusak vagina demi menyempitkan vagina.
  7. Simbolistik dengan kunyit yang dikupas

Bahaya Sunat Perempuan

Adapun bahaya sunat perempuan adalah:

  • Gangguan Fisik
  1. Jangka Pendek: Menimbulkan rasa sakit, pendarahan, shock, tertahannya urin, serta luka pada jaringan sekitar vagina.
  2. Jangka Panjang: Disfungsi organ reproduksi, timbulnya kista dan abses, keloid dan cacat, serta kesulitan saat melahirkan.
  • Gangguan Psikis yang serius pada perempuan
  1. Jangka Pendek: Sunat perempuan dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan sensitivitas jaringan di daerah genital, terutama klitoris, untuk mengurangi gairah seks perempuan.
  2. Jangka Panjang: Perempuan akan cenderung tidak bisa menikmati hubungan seksual dalam pernikahannya, depresi, ketegangan, rasa rendah diri, dan tidak sempurna.


Sumber: Diskusi #UNALAtalk dengan topik “Sunat Perempuan dan Kesehatan Reproduksi” oleh Prof. Dr. Musdah Mulia