Menikah itu Pilihan bukan Kewajiban

#UNALAkasus

Oleh: Septia Annur Rizkia


Menurut sebagian besar masyarakat,  perkawinan merupakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Tetapi, tidak semua orang sepakat akan pernyataan tersebut. Mengapa? Sebab setiap kepala memiliki pandangan yang berbeda, terutama terkait perkawinan. Hal tersebut pun bisa saja dipengaruhi oleh kondisi sosial, lingkungan, serta latar belakang pendidikan setiap individu yang tak mungkin sama.

Nah, adanya anggapan yang mengatakan perkawinan atau pernikahan itu kebutuhan yang harus dipenuhi, menjadikan beberapa individu berlomba-lomba ke jenjang tersebut. Seolah-olah, goal dari hidup seseorang ditentukan ketika seseorang sudah membangun rumah tangga. Tak jarang pula yang memutuskan menikah untuk memenuhi tuntutan sosial.

Padahal menikah merupakan keputusan yang perlu dipertimbangkan dengan sebaik mungkin, dan kesiapan seseorang pun  tak bisa diukur dari satu segi saja. Melainkan banyak hal yang perlu dan patut dipikirkan dengan keadaan emosi yang stabil serta benar-benar secara sadar tanpa campur tangan maupun intervensi dari pihak manapun, kecuali diri sendiri

Maka, gagasan yang mengusung Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP)  merupakan hal yang penting untuk keberlangsungan hidup bersama, terutama para remaja. PUP sendiri merupakan upaya untuk meningkatkan usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal pada saat perkawinan yaitu 20 tahun  bagi perempuan, dan 25 tahun bagi laki-laki.

Selain itu, PUP bukan sebatas menunda sampai usia tertentu saja, tapi juga mengusahakan agar kehamilan pertama pun terjadi pada usia yang cukup dewasa dan matang.

Sedangkan dalam UU revisi Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 7 ayat 1 mengatur batas minimal usia perkawinan untuk laki-laki dan perempuan menjadi 19 tahun, yang pada mulanya laki-laki 19 tahun, dan 16 tahun untuk perempuan.

Tujuan dari Pendewasan Usia Perkawinan pun beragam, diantaranya:

  • Memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja agar di dalam merencanakan keluarga, dapat mempertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.
  • Akses informasi dan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi yang komprehensif.
  • Banyak remaja yang sudah mengalami pubertas tidak mengetahui proses terjadinya konsepsi/ kehamilan.

Diskursus terkait Pendewasaan Usia Perkawinan tak patut dikesampingkan karena merupakan  hal mendesak yang perlu dikaji ulang dengan harapan mampu menggerakan para pemangku kebijakan untuk menghasilkan kebijakan yang tepat, sesuai, serta mengurangi  perkawinan dini yang berisiko.

Mengapa? Sebab idealnya perkawinan adalah siap secara menyeluruh, baik dari segi fisik, psikologi, ekonomi, spiritual, intelektual, serta sosial.

Selain itu, pentingnya Pendewasaan Usia Perkawinan juga dilatarbekalangi oleh beragam hal, diantaranya:

  • Fisik : organ reproduksi perempuan belum matang sehingga beresiko pada kesehatan reproduksi perempuan.
  • Psikis : masih anak-anak sehingga dikhawatirkan muncul persoalan psikologi misalnya depresi, memicu kekerasan dalam rumah tangga.
  • Sosial : terbentur dengan norma dan aturan di masyarakat
  • Ekonomi : belum mempunyai pekerjaan tetap dan mapan

Nah, kalau kamu punya pertanyaan seputar kesehatan reproduksi atau ingin konsultasi kesehatan fisik lainnya, hubungi 0811 2555 390. Selain Gratis,  para mitra tenaga medis UNALA pun ramah, non diskriminasi, serta tidak menghakimi.


Sumber: Diskusi Zoom Meeting UNALA, “Penundaan Usia Perkawinan” oleh UNALA