Strategi Penerapan Pendidikan Kesehatan Reproduksi pada Remaja

#UNALAtips

Oleh: Septia Annur Rizkia


Pendidikan Kesehatan Reproduksi sangatlah penting. Sebab hal tersebut tak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari.

Memang, belum semua kalangan teredukasi sebagaimana mestinya. Walaupun begitu, beberapa pihak yang berjuang menyuarakan isu tersebut pun bisa dibilang tidak sedikit. Hal itu pun berdampak pada semakin banyaknya kalangan yang mulai sadar akan urgensi isu tersebut, meskipun belum semua kalangan.

Nah, yuk simak strategi penerapan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja yang pernah dipaparkan oleh Dra. Yustina Sri Rahayu, M.Pd pada diskusi virtual UNALA di beberapa waktu lalu.

Strategi Penerapan Pendidikan Kesehatan Reproduksi pada Remaja

  • Pembinaan kesehatan reproduksi disesuaikan dengan kebutuhan proses tumbuh kembang remaja dengan menekankan pada upaya promotif dan preventif yaitu penundaan usia perkawinan muda dan pencegahan seks berisiko.
  • Pelaksanaan pembinaan kesehatan reproduksi remaja dilakukan terpadu lintas program dan lintas sektor yang melibatkan sektor swasta serta LSM, yang disesuaikan dengan peran dan kompetensi masing-masing sektor sebagaimana yang telah dirumuskan di dalam Pokja Nasional Komisi Kesehatan Reproduksi Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) dan Usaha Kesehatan Sekolah.

  • Pembinaan kesehatan reproduksi remaja dilakukan melalui pola intervensi di sekolah mencakup sekolah formal dan non formal dan di luar sekolah dengan memakai pendekatan “pendidik sebaya” atau peer counselor.
  • Pemberian pelayanan kesehatan reproduksi remaja melalui penerapan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) atau pendekatan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Integratif di tingkat pelayanan dasar yang bercirikan “peduli remaja” dengan melibatkan remaja dalam kegiatan secara penuh.
  • Pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui integrasi materi KKR ke dalam mata pelajaran yang relevan dan mengembnagkan kegiatan ekstrakulikuler seperti: bimbingan dan konseling, dll.
  • Pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi remaja bagi remaja di luar sekolah dapat diterapkan melalui berbagai kelompok remaja yang ada di masyarakat seperti Karang Taruna, Saka Bhakti Husada (SBH), kelompok anak jalanan di rumah singgah, kelompok remaja masjid/gereja, kelompok bina Keluarga Remaja.

Adapun kebijakan yang mengatur adalah mengacu pada peraturan gubernur DIY No. 109 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan kesehatan reproduksi remaja.

Selain itu ruang lingkupnya adalah Pendidikan, Pelayanan, Partisipasi, dan Organisasi.


Sumber: Diskusi UNALA via Zoom yang bertemakan, “Kebijakan Pendidikan Kespro Remaja untuk Student Well-being, oleh Dra. Yustina Sri Rahayu, M.Pd