Tidak Ada Hubungan Selaput Darah yang Robek dengan Keperawanan

#UNALA fact

Oleh: Septia Annur Rizkia


Belakangan, sempat mencuat mitos-mitos seputar seksualitas. Usut punya usut, mitos yang masih bertebaran dan berpotensi merugikan kesehatan reproduksi juga masih hadir di tengah kaum akademisi. Misal, beberapa waktu lalu sempat viral pernyataan salah seorang anggota KPAI tentang perempuan yang bisa hamil ketika berenang di kolam renang umum, yang akhirnya menuai kontroversi.

Nah, kejadian tersebut bisa kita jadikan pembelajaran bahwa, pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensih itu sangatlah penting dan perlu diajarkan sedini mungkin, guna mengikis hal-hal merugikan yang tidak diinginkan.

Pun, kepercayaan terkait ukuran keperawanan seorang perempuan yang dinilai dari robeknya selaput dara juga masih ada dan justru dilanggengkan di beberapa tempat.

Padahal, menurut seorang dokter mitra UNALA, dr. Dyah Ayu Shinta menjelaskan, selaput dara merupakan selaput tipis yang mengelilingi lubang ke vagina. Selaput dara memiliki variasi bentuk yang tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Selaput dara yang paling umum pada perempuan muda berbentuk seperti setengah bulan. Bentuk ini memungkinkan darah menstruasi mengalir keluar dari vagina. Namun ada 7 jenis bentuk lain dari selaput dara seperti yang bisa kita lihat di gambar di bawah. Jenis-jenis selaput dara (hymen) itu antara lain adalah :

  1. normal hymen
  2. hymen anularis
  3. hymen bifenestratus
  4. hymen trifenestratus
  5. hymen cribiformis
  6. hymen labialis
  7. hymen microperforatus
  8. hymen imperforatus

Selaput dara pada dasarnya akan besar dan tebal pada masa kanak-kanak. Semakin elastis menjelang pubertas. Dan semakin dewasa, lapisan ini semakin tipis/ semakin berlubang saja terutama lantaran aktivitas sehari-hari.

Selama ini, masyarakat luas masih menganggap bahwa selaput dara adalah indikator keperawanan seseorang. Perempuan yang selaput daranya sudah tidak intak berarti sudah tidak perawaan. Selain itu masih banyak orang percaya bahwa selaput dara akan berdarah saat pertama kali berhubungan seks.

Anggapan mengenai selaput dara dan hubungannya dengan keperawanan sebetulnya kurang tepat. Fungsi selaput dara sebenarnya adalah melindungi vagina dalam proses pematangannya. Walaupun fungsi secara spesifik sampai saat ini belum diketahui dengan jelas. Namun, beberapa ahli menduga membran ini berfungsi untuk melindungi organ intim ketika masih bayi. Pada masa itu, sistem kekebalan tubuh masih sangat lemah sehingga rentan mengalami infeksi.

Pada selaput dara yang normal sebenarnya telah terbuka sebelum berhubungan seksual untuk pertama kalinya. Hal ini dikarenakan terdapat lubang tipis untuk keluarnya darah menstruasi. Selain itu selaput dara yang tidak intak bisa disebabkan berbagai macam faktor, seperti penggunaan tampon, aktivitas fisik yang terlalu berat, cidera, trauma, ataupun pemeriksaan medis ke liang vagina. Robeknya selaput dara sering tidak disadari. Hal ini dikarenakan robeknya selaput dara bisa terjadi tanpa mengakibatkan perdarahan maupun rasa sakit. Rasa sakit saat selaput dara robek akibat aktivitas fisik tidak sama dengan rasa nyeri saat melakukan hubungan seks pertama kali.

Pendarahan dan rasa sakit yang terjadi di malam pertama utamanya bukan disebabkan oleh robeknya selaput dara, namun hal ini terjadi akibat kurangnya pelumasan sehingga bibir atau dinding vagina mengalami luka karena bergesekan dengan penis.

Jika ada selaput dara yang begitu mudah rusak hanya karena naik sepeda, maka ada juga selaput dara yang bahkan tetap utuh meski pemiliknya sudah berhubungan seks. Beberapa selaput dara ada yang sangat fleksibel dan elastis. Selaput dara jenis imporferatus, microperforatus, dan cribiformis bahkan bisa tetap akan intak bahkan setelah berhubungan seks karena bentuknya yang memang tidak membuka sempurna. Bahkan ada juga yang selaput daranya baru akan robek setelah melahirkan.

Jadi jelas disini bahwa selaput dara yang robek bukanlah suatu indikator apakah seorang perempuan masih perawan atau tidak.

Maka, kalau kamu punya pertanyaan seputar kesehatan reproduksi maupun isu-isu seksualitas, bisa segera datang ke layanan UNALA atau dengan menghubungi 0811 2555 390, Gratis!


Sumber: dr. Dyah Ayu Shinta Lesmanawati (Dokter Mitra UNALA)