Dampak serta Tips yang Perlu Dilakukan Guna Mencegah Stigma Covid-19

#UNALAtips
Oleh: Septia Annur Rizkia


Situasi pandemi yang belum berakhir seperti saat ini mengundang banyak kejadian, salah satunya yaitu munculnya stigmatisasi Covid-19. Pastinya, hal tersebut menuai banyak kesedihan di tengah keadaan yang mengharuskan setiap orang untuk selalu berhati-hati.

Stigmatisasi tersebut beragam, terutama pada orang-orang yang terpapar Covid-19, baik yang dikatakan sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), serta yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Tidak berhenti disitu, ada juga sebagian orang yang menstigma serta mendiskriminasi para tenaga medis yang membantu menangani pasien Covid-19 tersebut, hingga munculnya suatu pemberitaan tentang penolakan dimakamkannya jenazah Covid-19 di beberapa wilayah yang tidak perlu disebutkan namanya.

Adanya stigma sosial terkait Covid-19 bukanlah langkah pencegahan yang tepat, melainkan akan semakin memperparah keadaan.

Dampak dari adanya stigma sosial berkaitan Covid-19 tersebut ialah:

– Membuat seseorang menyembunyikan status kesehatan serta enggan memeriksakan diri.

– Membuat seseorang takut bahkan kabur saat akan diperiksa, diobati, atau dikarantina. Sehingga Memperbesar risiko penularan di masyarakat

Nahas bukan? Pastinya IYA.

Di lain sisi masyarakat sudah memiliki kesadaran terhadap virus yang bisa menular dan belum ditemukan vaksinnya tersebut, namun disisi lain tindakan tersebut kebablasan sehingga berdampak pada hilangnya rasa kemanusiaan dengan sesama.

Maka, kita pun juga tidak bisa menyalahkan maupun ikut menghakimi masyarakat yang melakukan tindakan tersebut. Mengapa?

Sebab bisa jadi rasa takut yang berlebihan tersebut dikarenakan kurangnya informasi maupun edukasi mengenai cara penularan serta pencegahan yang bisa dilakukan guna menekan penyebaran Covid-19.

Kalau sudah begitu, tindakan apa yang sebaiknya perlu kita lakukan? Ya, salah satunya yaitu dengan saling mengedukasi maupun saling memberi pemahaman satu sama lain.

Kali ini, kami pun akan mencoba memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan guna mencegah adanya stigma Covid-19, diantaraya yaitu:

  1. Gunakan istilah yang sesuai, yaitu Covid-19. Bukan virus Wuhan atau flu Asia. “Co” diambil dari nama corona, kemudian “vi” adalah virus, “d” adalah disease (penyakit), dan 2019 adalah tahun saat wabah itu pertama kali muncul.
  2. Menghindari melabeli orang, kelompok, etnis, atau daerah tertentu sebagai penyebab atau penyebar C-19.
  3. Menanam empati dan memberi dukungan kepada mereka yang terdampak, baik pasien, keluarga pasien, atau masyarakat sekitar.
  4. Memberikan penghargaan untuk para petugas medis yang menangani serta merawat pasien Covid-19.
  5. Tidak membagikan kabar bohong, serta menghindari membagikan narasi ujaran kebencian terhadap seseorang, kelompok, etnis, atau daerah tertentu terkait Covid-19.
  6. Carilah informasi yang tepat dari sumber yang kredibel.
  7. Sebarkan berita baik, misalnya mengenai kesembuhan, cara pencegahan yang tepat, cara menjaga diri serta keluarga, maupun kisah perjuangan para tenaga medis dalam melawan Covid-19.

Perlu kita tahu dan tanamkan bersama bahwa seseorang yang terpapar maupun terkonfirmasi Covid-19 bukanlah monster yang perlu dijauhi secara sosial maupun mental. Tidak ada satu pun orang yang ingin terkena, tertular, maupun menularkan virus tersebut.

Maka, cukup dengan melakukan Physical Distancing serta langkah-langkah pencegahan serta penularan yang telah dianjurkan tanpa perlu menstigma serta mendiskriminasi satu sama lain.


Referensi: unicef.org