Yuk Ketahui Risiko Perkawinan Anak!

#UNALAkasus


Beberapa waktu lalu sempat ramai dengan pemberitaan perkawinan anak, yang mana seorang perempuannya masih di bawah umur.

Ya, hal tersebut pastinya tidak hanya terjadi sekali saja di negara ini, melainkan sudah tidak asing lagi pernah kita dengar maupun jumpai di beberapa wilayah. Hanya saja, tidak semua kasus tersebut terungkap di wilayah publik.

Sebenarnya, Apa saja sih yang Melatarbelakangi adanya Perkawinan Anak?

Nah, berkaitan dengan faktor penyebab terjadinya perkawinan anak sangatlah kompleks dan bisa dikatakan beragam. Mengapa demikian?

Sebab kejadian tersebut dipengaruhi pula oleh latar belakang kehidupan masing-masing orang yang berbeda, diantaranya yaitu:

1. Pendidikan

Akses pendidikan atau edukasi yang tidak terpenuhi sangatlah berpengaruh terhadap persepsi maupun perspektif setiap manusia. Termasuk minimnya pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif terhadap masyarakat secara luas membuat sebagian orang tidak mengetahui risiko dan juga dampak dari adanya perkawinan anak. Baik dari segi biologis, ekonomi, psikologi, maupun sosial.

2. Ekonomi

Faktor ketimpangan ekonomi juga bisa berdampak terjadinya perkawinan anak. Karena adanya tekanan ekonomi, membuat sebagian orang memilih jalan tersebut. Bisa jadi karena tidak sekolah dan tidak bekerja, akhirnya dinikahkan oleh pihak keluarga dengan alasan mengurangi beban keluarga, ataupun alasan-alasan ekonomi lainnya.

3. Sosiokultural

Tuntutan atau tekanan sosial juga berkontrubusi terjadinya perkawinan anak, atau bisa jadi mengikuti kebiasaan atau kultur masyarakat yang sudah ada sebelum-sebelumnya.

Selain itu, bisa juga karena faktor tafsir agama yang dianut oleh sebagian orang, yang belum tentu kebenarannya.

Padahal dampak dari perkawinan anak sangatlah merugikan, terutama dari segi kesehatan reproduksi si perempuannya. Mengapa?

Menurut data yang dipaparkan oleh UNICEF, bisa berakibat pada:

– Komplikasi pada saat hamil dan melahirkan anak adalah penyebab utama kematian perempuan berumur 15-19 tahun.

– Bayi yang lahir dari ibu di bawah 20 tahun hampir 2 kali lebih mungkin meninggal sebelum 28 hari pertama dibandingkan bayi yang lahir dari ibu berusia 20-29 tahun.

– Perempuan yang menikah pada usia anak lebih rentan terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Selain itu, ada beberapa fakta yang perlu kita ketahui terkait perkawinan anak yang ada di Indonesia, yakni:

– Pada tahun 2018, sekitar 11% atau 1 dari 9 perempuan berumur 20-24 menikah sebelum berusia 18 tahun. Rata-rata 575 anak perempuan menikah setiap harinya.

– 0,5% anak perempuan menikah sebelum berusia 15 tahun.

– Pada tahun 2018, sekitar 1% atau 1 dari 100 laki-laki berumur 20-24 tahun menikah sebelum berusia 18 tahun.

Maka itu, pernikahan/perkawinan membutuhkan kedewasaan dan kematangan yang bukan hanya bersifat biologis, melainkan juga psikologis, sosial, mental dan spiritual.

Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menetapkan batas minimal usia nikah adalah 18 tahun.

Sedangkan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), batas minimal bagi perempuan sebaiknya 21 sedangkan bagi laki-laki 25.

Nah, untuk semua sobat UNALA, yuk saling mengedukasi dan berbagi informasi dengan sesama lainnya guna meminimalisir angka perkawinan anak yang ada di Indonesia ini.
Kalau kamu punya pertanyaan terkait kesehatan reproduksimu, yuk segera hubungi 0811 2555 390, Gratis!


Sumber: unicef.org, theconversation.com