Tahukah Kamu Bahaya Penyemprotan Langsung Disenfektan ke Badan?

#UNALAfact
Oleh Maulidya Risne Andini


Indonesia telah menetapkan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sebagai bencana non-alam yang berupa wabah penyakit yang wajib diupayakan penanggulangannya sehingga tidak terjadi peningkatan kasus. Penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 ini dapat meyebar antar manusia melalui kontak dengan orang yang terinfeksi atau melalui droplet orang yang terinfeksi pada saat batuk, bersin, menyentuh benda atau permukaan yang terkena droplet yang kemudian masuk melalui mata, mulut, ataupun hidung.

Oleh karena itu, kita perlu melakukan kegiatan pencegahan penularan, seperti menyemprotkan disinfektan ke permukaan benda atau badan seperti di bilik disinfeksi. Namun, apakah hal ini efektif dan aman bagi tubuh manusia?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, yuk kenali istilah-istilah beriktut!

Disinfeksi

Disinfeksi adalah proses menghilangkan sebagian besar atau semua mikroorganisme patogen kecuali spora bakteri yang terdapat di permukaan benda mati (non-biologis, seperti pakaian, lantai, dinding).

Disinfeksi dilakukan pada permukaan (lantai, dinding, peralatan, dan lain-lain), ruangan, pakaian, serta alat pelindung diri (APD).

Bilik Disinfeksi

Bilik disinfeksi yang banyak digunakan masyarakt untuk mendisinfeksi permukaan tubuh yang tidak tertutup, pakaian dan barang-barang yang digunakan atau dibawa oleh manusia.

Berdasarkan berbagai laporan, bilik disinfeksi yang digunakan masyarakat menggunakan berbagai macam carian disinfektan, di antaranya ialah diluted belach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dan sejenisnya, etanol 70%, ammonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), hidrogen peroksida (H202) dan sebagainya. Cairan-cairan tersebut digunakan untuk mendisinfeksi ruangan dan permukaan seperti lantai, perabot, peralatan kerja, pegangan tangga atau eskalator, moda transportasi, dan lainnya.

Sedangkan World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia menyatakan bahwa menyemprotkan langsung cairan disinfektan yang mengandung alkohol atau klorin tidak dapat membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh. Bahan-bahan yang terkandung di dalamnya dapat menimbulkan risiko kesehatan terlebih jika terkena selaput lendir seperti mata dan mulut, serta dapat merusak pakaian. Pajanan disinfektan langsung secara terus menerus dapat menyebabkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Bahkan, disinfektan jenis larutan hipoklorit pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kulit terbakar parah.

Ingat! Alkohol dan klorin berguna sebagai disinfektan pada permukaan benda mati selama digunakan sesuai petunjuk penggunaan.

Berdasarkan hal tersebut, maka bilik disinfeksi tidak dianjurkan digunakan di tempat dan fasilitas umum (TFU) serta pemukiman.

Jangan khawatir! Berikut solusi aman untuk mencegah penularan COVID-19:

  • Cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan air mengalir dengan rutin, atau menggunakan hand sanitizer jika tidak memungkinkan CTPS;
  • Membersihkan dan melakukan disinfeksi secara rutin pada permukaan dan ruangan yang sering disentuh, misalnya perabot, alat kerja, gagang pintu, moda transpormasi, dan lain sebaginya;
  • Membuka jendela untuk mendapatkan sirkulasi udara yang baik. Jika kamu menggunkana kipas angina atau air conditioner (AC), jangan lupa melakukan pemeliharaan secara rutin.
  • Segera mandi dan berganti pakaian seteleh bepergian.

Nah, itulah kegiatan pencegahan yang tepat dan aman guna memutus rantai penularan COVID-19.


Referensi

  • (2020, Maret 29). Retrieved from twitter.com: https://twitter.com/WHOIndonesia/status/1244184410687016960
  • Surat Edaran Dirjen Kesmas Nomor 375 tahun 2020 tentang Penggunaan Bilik Desinfeksi Dalam Rangka Pencegahan Penularan COVID-19. (2020, April 3). Retrieved from infeksiemerging.kemkes.go.id: https://infeksiemerging.kemkes.go.id/download/SE_Penggunaan_Bilik_Desinfeksi_dalam_Rangka_Pencegahan_Penularan_Covid_19.pdf