YG#1: Mengenal Cyber Bullying dan Mengelola Konten Sosial Media secara Sehat

#UNALAactivity


Kegiatan Youth Gathering (YG) adalah salah satu kegiatan rutin UNALA yang diadakan secara reguler dengan mengundang perwakilan remaja dari sekolah dan komunitas yang ada di DIY.

Youth Gathering #1 kali ini berada di wilayah kabupaten Bantul, tepatnya di kafe Temani Ngopi yang berada di Jl. Urip Sumiharjo, Gose, Bantul, (25/02).

Tema yang diangkat di kegiatan Youth Gathering ini yaitu, “Mengenal Bullying dan Mengelola Konten Media Sosial secara Sehat”. Kegiatan dibuka dengan memperkenalkan UNALA kepada para peserta, dengan dipandu oleh dua orang volunteer dari UNALA.

UNALA merupakan program yang digagas oleh UNFPA, salah satu lembaga yang berada di bawah nauangan World Health Organization (WHO).

Acara dilanjut dengan sesi diskusi yang dimoderatori oleh Tantri Swastika, Youth Engangement Organization (YEO) UNALA.

Gadis Rafidha, salah seorang narasumber, mengajak kepada para peserta untuk bijak dalam mengelola sosial media.

“Menentukan tujuan sosial media apakah untuk bisnis, personal branding atau lain-lainya, adalah cara seseorang dalam mengangkat keunggulan, kemampuan, maupun keunikan yang dimiliki seseorang,”tuturnya saat membawakan materi.

Ia juga mengatakan, penceritaan bisa berupa kegiatan yang dilakukan untuk membentuk citra seseorang sesuai dengan keinginan orang banyak.

Gadis melanjutkan, ‘Kadang hal ini juga dilakukan untuk menutup suatu hal buruk. Biasanya pencitraan hanya berlangsung sesaat karena hanya bertujuan untuk mengubah persepsi orang.”

Putri Khatulistiwa, narasumber selanjutnya menjelaskan mengenai internet sehat dan cyber bullying. Dalam penuturannya, gadget atau handphone merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dalam memenuhi kebutuhan informasi.

“Dalam kondisi hari ini, setiap hal dilakukan menggunakan gadget,”sambungnya saat memaparkan materi. “Gadget saat ini pun juga sering digunakan dalam hal mengasuh anak,”lanjutnya.

Tekhnologi bak mata pisau, bisa berdampak positif dan juga negatif, tergantung dengan cara pemakaiannya, sebagaimana yang di paparkan Putri saat itu. Ia juga menegaskan kepada para peserta remaja untuk bijak dalam menggunakan tekhnologi, terkhusus telfon genggam.

Ia pun menuturkan bahwa jenis-jenis pola asuh bisa mempengaruhi kepribadian setiap individu. Salah satunya yaitu perilaku otoriter yang merupakan salah satu konsep pola asuh yang tidak baik diterapkan oleh orang tua kepada anak-anakya. Berbeda dengan perilaku otoritatif, atau konsep pola asuh yang mengajak untuk menjadi generasi yang berani memutuskan dengan bertanggung jawab.

Selain itu, ia juga mengatakan terkait faktor yang mempengaruhi pola asuh, diantaranya yaitu faktor pendidikan, lingkungan, dan budaya.
Di akhir diskusi, Putri Khatulitiwa memutarkan video tentang dampak perilaku bullying.[]