Tips Memberikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi pada Remaja di Sekolah

#UNALAtips

Oleh: Septia Annur Rizkia


Sebelumnya kita usai membahas terkait pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif. Saat ini kami akan melanjutkan ke pembahasan yang lebih spesifik, yaitu lebih pada tipsnya. Nah, berkaitan dengan persoalan kesehatan reproduksi yang masih dianggap tabu, kami akan mencoba membantu memberikan beberapa tips untuk mengajarkan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja, terkhusus di lingkup sekolah.

Apa saja sih yang bisa kita lakukan sebagai upaya-upaya membongkar ketabuan dalam masyarakat kita? Bukankah pendidikan kesehatan reproduksi itu bertujuan mengedukasi atau mendidik, dan perlu diajarkan secara komprehensif juga?

Nah, yuk kita simak beberapa uraian dari kami, diantaranya yaitu:

1. Buatlah kesepakatan belajar.

Hal yang pertama kali perlu diperhatikan yaitu membuat kesepakatan belajar dari awal sebelum proses pembelajaran dimulai. Hal tersebut mengingat isu-isu mengenai kesehatan reproduksi masih dianggap tabu.

Nah, kesepakatan belajar tersebut juga akan membantu membangun lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua pihak, terkhusus peserta didik, atau remaja sekolah. Tujuan lainnya yaitu untuk bisa saling menghargai, menghormati, serta mencegah adanya bullying, diskriminasi, dan lain-lainnya.

2. Jadilah tulus.

Sikap tulus bisa membantu membangun komunikasi yang lebih mudah dan efektif, terutama si pengajar perlu untuk bisa mengekspresikan rasa ketulusannya dalam proses pembelajaran nantinya.

3. Tahu bagaimana untuk mendengarkan.

Mendengarkan merupakan hal pokok dalam menjalin komunikasi. Ada saatnya menjadi pendengar, ada saatnya pula merespon dengan kalimat-kalimat responsif yang penuh simpatik dan juga empatik, sehingga semua pihak pun merasa dihargai.

4. Memiliki pikiran terbuka.

Memiliki pikiran terbuka (open mind) sangatlah penting, terkhusus dalam hal ingin memberikan edukasi terkait kesehatan reproduksi pada remaja yang ada di sekolah. Memberi kesempatan yang lain untuk berbicara, menyampaikan pendapat serta unek-unek sehingga tercipta kondisi yang dialogis.

5. Jadilah fleksibel.

Menyesuaikan situasi dan kondisi serta kebutuhan, atau tidak monoton dan tidak kaku.

6. Menghormati privasi.

Menjaga kerahasiaan masing-masing pihak itu menjadi sebuah keharusan. Dan jangan sampai mengulik ke hal-hal yang sifanya privasi.

7. Tetap tenang.

Tetap tenang dengan segala respon yang didapat, agar tidak terkesan reaksioner atau malah terbawa emosi.

8. Meminta pendapat peserta didik.

Nah, agar diskusi pun berjalan dua arah, semua pihak perlu diberikan ruang untuk berpendapat.

9. Menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Ketika ada pertanyaan yang muncul di forum, kita pun harus dengan segera merespon dan menjawab dengan sebaik mungkin, dan jangan sampai ada justifikasi atau kesan menghakimi maupun meremehkan.

10. Menunjukkan rasa percaya diri membahas topik-topik kesehatan reproduksi.

Agar tidak muncul stigma bahwa kesehatan reproduksi adalah hal tabu untuk dibicarakan dan didiskusikan di wilayah publik, menunjukkan rasa percaya diri itu diperlukan. Sikap percaya diri pun berguna untuk meyakinkan terkait pentingnya edukasi kespro tersebut, dan menekankan kembali bahwa pembahasan kespro tidak hanya soal hubungan intim semata.

11. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berkonsultasi di luar proses pembelajaran.

Nah gitu, kalau kamu masih punya pertanyaan seputar kesehatan reproduksi yang komprehensif, bisa menghubungi 0811 2555 390. Sekian dulu dari kami, next time bisa kita diskusikan bersaam lagi. See you sobat!