Mengenal Body Positivity: Belajar Mencintai Tubuh Sendiri

#UNALAcare

Oleh: Septia Annur Rizkia


Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan bentuk tubuh yang berbeda-beda satu sama lain. Nah, dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang bermunculan komentar-komentar negatif tentang tubuh, baik yang terlontar dari orang lain ke tubuh kita, maupun dari diri sendiri ke bentuk tubuh yang kita miliki.

Bagaimana itu? Bukankah tubuh setiap manusia itu berbeda dan memiliki keunikannya masing-masing? Mari kita sedikit telusuri isu tentang ketubuhan, atau yang biasa disebut dengan istilah “Body Positivity”.

Apa itu Body Positivity?

Secara umum, sebagaimana yang penulis ketahui, Body Positivity yaitu penerimaan atas bentuk tubuh yang dimiliki, bagaimanapun bentuknya dan seperti apapun keadaannya. Menerima, merawat, menjaga, serta mencintainya.

Dalam Psychology Today, Schreiber dan Hausenblas Ph.D. mengutip definisi body positivity dari desainer lini busana SmartGlamour, Mallorie Dunn yaitu, penerimaan tubuh beserta segala perubahan bentuk, ukuran, dan kemampuannya yang terjadi seiring usia. Nah, Body positivity menurut Dunn juga mencakup pemahaman mengenai penghargaan diri terlepas dari apa pun yang terjadi di dalam dan luar tubuh seseorang.

Kedua penulis yang dimuat dalam laman Psychology Today tersebut juga memaparkan, bukan berarti seseorang yang ingin memandang tubuhnya secara positif tak menghiraukan masukan-masukan baik untuk memperbaiki fisik. Mereka menyarankan para pembaca untuk tetap menyerap informasi seputar Body Positivity dari aneka sumber, mulai dari media, pakar kesehatan, keluarga, hingga teman-teman.

Dalam bukunya Naomi Wolf yang berjudul “Mitos Kecantikan”, ia juga menyatakan mitos kecantikan ini sering berdampak praktis terhadap kehidupan sehari-hari yang dijalani perempuan, khususnya mereka yang masih remaja. Ia juga mengatakan, mitos kecantikan senantiasa berubah dari waktu ke waktu.

Mulai dari kampanye bentuk tubuh ideal, idealnya seorang perempuan maupun laki-laki, serta nilai manusia yang hanya diukur dari penampilan dan bentuk fisik. Semisal cantik atau ganteng, yang coba distandarisasikan di masyarakat dan semakin dilanggengkan oleh media-media melalui iklan dan lain-lainnya.

Ya, hal tersebut berdampak pada rasa “insecure” ke seseorang, terkhusus perempuan, sehingga menguntungkan beberapa pihak, misalnya industri suatu produk. Sedangkan orang-orang yang kemakan standar ideal tubuh tersebut berbondong-bondong mengikuti tren yang ada demi memenuhi ekspektasi orang-orang pada umumnya, yang itu tidak jarang tanpa memikirkan kebutuhan maupun kesehatan tubuh yang sebenarnya itu lebih penting.

Oiya, isu terkait Body Positivity ini tidak hanya berlaku pada perempuan saja, laki-laki juga kerapkali terintimidasi oleh konsep tubuh yang dominan. Semisal laki-laki itu harus tinggi, berbadan atletis, gagah, berwajah tegas, dan lain sebagainya.

Nah sobat, yang terpenting dari konsep Body Positivity yaitu rasa nyaman terhadap tubuh sendiri. Berpenampilan seperti apapun, itu pilihan, asal tidak merugikan pihak lain maupun diri sendiri. Jikapun ingin memperbaiki kondisi fisik, alangkah baiknya jika dengan alasan kesehatan, bukan semata-mata memenuhi ekspektasi dari luar diri sendiri.

Nah gaes, tetap untuk selalu menerima, merawat, menjaga, serta mencintai tubuh yang kita miliki. Kami sudahi dulu ya, dan akan kami lanjut di ulasan berikutnya. Kalau kamu punya pertanyaan seputar Body Positivity, bisa langsung menghubungi 0811 2555 390, atau download aplikasi Mobile App UNALA di Playstore. See you!