Seberapa Penting Pengetahuan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja?

#UNALAcare

Oleh: Septia Annur Rizkia


Bicara mengenai kesehatan reproduksi, sebenarnya apa aja sih yang perlu dibahas? Nah, mari kita belajar perlahan untuk memahami makna dari kesehatan reproduksi itu sendiri, terutama pada remaja.

Nah, menurut UNFPA, remaja adalah yang berusia 15-24 tahun, sedangkan menurut WHO yaitu usia 12-24 tahun. Usia remaja adalah masa yang penting untuk menjaga kebersihan serta kesehatan, terutama pada organ reproduksi, hal tersebut untuk kebaikan dalam jangka panjang dan masa depan generasi yang lebih baik.

Sebelumnya, reproduksi sendiri berasal dari kata “re” yang berarti kembali, dan “produksi” yang artinya menghasilkan atau membuat.

Apa sih kesehatan reproduksi?

Merujuk dari asal kata reproduksi yang berarti menghasilkan kembali, maka secara umum pun reproduksi bisa diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan. Dari definisi yang masih umum tersebut, maka tak jarang jika masih banyak yang beranggapan pembahasan terkait reproduksi hanya sebatas hubungan intim atau masalah seksual saja. Maka yang terjadi, banyak orang tua yang tidak nyaman membicarakan masalah kesehatan reproduksi pada remaja, karena masih dinilai tabu untuk dibahas dan didiskusikan.

Padahal, yang dinamakan kesehatan reproduksi yaitu keadaan sehat terkait sistem, fungsi, serta proses reproduksi. Atau, keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh, yang itu tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi.

Melansir dari laman resmi kemenkes.org, definisi kesehatan reproduksi telah diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yaitu merupakan keadaan sehat secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan.

Pentingkah pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif bagi remaja?

Jawabannya, sangatlah penting. Memberikan edukasi atau pengetahuan kepada remaja terkait kesehatan reproduksi seharusnya bukan sesuatu yang melulu dianggap tabu. Seperti yang sudah kami paparkan sebelumnya, kesehatan reproduksi (kespro) cakupannya sangatlah luas.

Membekali remaja dengan pengetahun kespro, justru akan mengurangi dampak dari seks yang berisiko, pernikahan di bawah umur, kehamilan tidak diinginkan, serta risiko aborsi tidak aman yang bisa membahayakan nyawa si perempuan atau si calon ibu.

Sebab apa? Yaps, jika seseorang, terlebih di usia remaja memiliki pengetahuan seputar hal tersebut, ia pun akan lebih hati-hati , terutama terhadap suatu hal yang berisiko dan berbahaya untuk kesehatan serta masa depannya.

Nah, yang disebut pendidikan kespro yang komprehensif yaitu edukasi yang dilakukan secara keseluruhan dan bertahap. Sekali atau dua kali saja tidak bisa dibilang komprehensif.

Kenapa pendidikan kesehatan reproduksi harus diajarkan sejak dini?

Ya sebab cakupan dari kesehatan reproduksi itu sangatlah luas. Dimulai dari persoalan tubuh atau ketubuhan, yang nanti akan membahas terkait otoritas tubuh atau hak atas tubuh. Nah, hal tersebut perlu diajarjan sedini mungkin. Usia anak-anak pun perlu diajarkan terkait bagaimana cara menghargai tubuhnya sendiri maupun tubuh orang lain.

Cakupan lainnya meliputi kesehatan reproduksi secara umum, salah satunya yaitu berkaitan dengan bagaimana perilaku seks yang sehat dan juga bertanggung jawab. Selain itu, bagaimana atau seberapa jauh elemen-elemen seksual yang bekerja dalam lingkup sosial dan budaya tertentu, yang menimbulkan implikasi kesehatan pada pelakunya.

Maka bisa dikatakan ada dua elemen dalam kesehatan reproduksi, yaitu seks sehat dan reproduksi sehat. Oleh sebab itu, UNALA sering mengajak remaja untuk berani mengambil keputusan/ memutuskan dengan bertanggung jawab.

Kalau kamu masih punya pertanyaan seputar kesehatan reproduksi dan ingin berkonsultasi langsung ke tenaga ahlinya, bisa menghubungi 0811 2555 390.

Referensi:
Kemenkes.org
UNFPA Indonesia