Ketahui Fakta Friends With Benefits, Menguntungkan Atau Hanya Saling Memanfaatkan?

#UNALAfact

Oleh: Septia Annur Rizkia


Kita akan melanjutkan pembahasan di hari lalu, terutama perihal Friends With Benefits atau biasa disebut dengan FWB. Nah, FWB sendiri adalah ketika dua orang secara fisik sangat intim satu sama lain, namun tidak memiliki komitmen apa pun, terutama perasaan cinta maupun kedekatan emosional.

Menurut Meagan Drillinger, Founder Vaera Journeys, Friends With Benefits adalah tipe hubungan di mana dua orang yang memiliki koneksi platonik saling menggunakan satu sama lain untuk seks.

Walaupun tidak menutup kemungkinan ada juga yang berujung pada hubungan romantis. Nah gitu, akan ada banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dalam hubungan Friends With Benefits tersebut. Biarpun memiliki arti teman dengan manfaat, sebagaimana setiap hal, kejadian, maupun pilihan, pasti tetap saja akan ada konsekuensi secara logis, entah itu baik maupun sebaliknya.

Salah satu manfaatnya mungkin bisa dalam ranah memenuhi kebutuhan akan dorongan seksual. Walaupun di satu sisi juga bisa berdampak tidak baik bagi kedua pihak maupun salah satu pihak.

Hal ini juga bisa dilihat dalam kacamata sains, yaitu riset yang datang dari ahli di Purdue University and Syracuse University, Amerika Serikat, mengenai Scientific Study of Sexuality’s. Menurut para ahli, sekitar 70 persen orang di lingkaran FWB dapat menyelamatkan hubungan pertemanan mereka, andai kata berhenti melakukan hubungan intim tersebut.

Ironisnya gini, meskipun salah satu alasan hubungan Friends With Benefits adalah keinginan untuk hubungan bebas komitmen, namun justru memberi pelakunya kecemasan, kurangnya kepercayaan dan kenyamanan. Pada tahapan tersebut, tingkat emosional sudah banyak terlibat. Fakta lainnya adalah, ketika salah satu individu dari FWB menemukan pasangan seriusnya, mereka akan cenderung keluar dari hubungan FWB yang sedang dijalaninya. Dan hal itu bisa saja ada kemungkinan membuat pasangan FWB nya itu merasa kecewa.

Dampak dari FWB ini lebih pada kondisi psikologis, walaupun ada juga yang lebih merasakan manfaatnya, yaitu bebas dari komitmen. Andaikan seiring berjalannya waktu dan salah satu ada yang menyimpan perasaan lebih, kemungkinan apa saja yang bisa terjadi?

Nah, mungkin saja perasaan yang dimiliki itu akan berdampak pada hubungan yang lebih positif, namun tidak juga selalu berjalan sesuai dengan tujuan. Bisa jadi beberapa pasangan akan menjadi kekasih, atau beberapa malah akan mengakhiri hubungan Friends With Benefits-nya.

Namun sebagaimana yang kita tahu, hubungan seperti itu masih tabu jika diterapkan di tengah kultur dan budaya yang berlaku di negara ini. Ya, biarpun ada juga yang menganut hubungan tersebut, namun tidak secara terbuka.

Sekali lagi, tak sedikit pasangan FWB yang berujung pada hubungan emosional dan komitmen jangka panjang, namun tak sedikit pula pasangan FWB yang berakhir karena salah satu diantarnya merasa terikat secara emosional, sehingga memilih melupakan perjanjian untuk tidak menjalani komitmen satu sama lain.

Kesimpulannya menunjukkan bahwa ada banyak hal yang bisa terjadi di balik romansa Friends With Benefits.

Kalau menurut pandangan dari penulis sendiri yang kebetulan tidak menganut hubungan FWB tersebut, hubungan seksual harus dilakukan dengan tanggung jawab, consent (persetujuan/kesepakatan). Terutama perlunya mempertimbangkan resiko yang akan terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang, baik sebelum, ketika, maupun sesudah melakukannya.

Ya, kesiapan dari kedua pihak dari beragam aspek juga perlu menjadi pertimbangan, terkhusus dari segi kesehatan secara reproduksi. Jangan sampai ada rasa penyesalan dan ada pihak yang merasa dirugikan pada akhirnya.

Kalau menurut penulis sendiri, komitmen dalam menjalin hubungan itu perlu, terutama bagi penulis sendiri yang menganut hubungan monogami (dengan satu pasangan).

Oiya, berkaitan dengan menguntungkan atau saling memanfaatkan hubungan FWB itu, kembali lagi pada persepsi masing-masing dan yang saling menjalankan ya. Tapi dalam hubungan yang sehat, baik dengan teman, keluarga, pasangan, dan lain-lain, alangkah baiknya jika saling menguntungkan dan saling memberi manfaat, atau bisa dibilang menerapkan prinsip take and give (menerima dan memberi).