Bicara Relasi Sehat, Ngomongin Apa aja ya?

#UNALAcare

Oleh : Septia Annur Rizkia


Bicara tentang relasi, seringkali kita langsung mengindetikkannya dengan relasi asmara. Padahal, kaitannya dengan relasi atau hubungan itu luas. Bisa dengan keluarga, teman, tetangga, maupun pasangan. Dan semua relasi yang melibatkan antar sesama manusia tersebut, bisa dibangun dengan relasi yang sehat.

Pengertian Relasi Sehat

Nah, yang dimaksud dengan relasi sehat disini adalah hubungan yang setara dan adil diantara semua pihak yang ada. Perlu kita ketahui bersama, bahwa setara dan sama itu dua hal yang berbeda. Setiap manusia itu memiliki keunikannnya masing-masing, baik laki-laki maupun perempuan, yang itu tidak sama.

Jadi, menyamakan individu yang satu dengan individu yang lain itu sama halnya perilaku yang tidak adil. Beda hal dengan setara. Setara yaitu sesuai dengan proporsi maupun kapasitas masing-masing individu, dan itu bersifat tidak memaksa dan tidak untuk mendekte sesuai dengan standar yang ada di masyarakat.

Ketika mendengar relasi sehat, apa yang terbayang dalam pikiran kita?

Dalam konteks relasi dengan pasangan, bahkan tak jarang pula kita langsung terbayang dengan sebuah hubungan antar manusia yang indah dan romantis. Lalu, apakah cukup relasi yang baik itu adalah relasi yang indah dan romantis seperti yang ada di film-film drama atau dongeng-dongeng?

Kenapa tidak, tidak ada yang salah membayangkan relasi yang manis seperti itu semua. Tapi, coba deh kita pahami lagi dengan seksama. Dalam relasi yang digambarkan manis itu apakah ada pembagian peran yang setara?

Nah, kembali ke pembahasan awal kita ya, mayoritas film drama romantika menggambarkan sebuah relasi berpasangan layaknya dongeng-dongeng putri yang diselamatkan oleh seorang pangeran dan kemudian menikah bahagia selamanya. Dari sini kita bisa melihat, secara garis besar perempuan digambarkan sebagai sosok yang lemah dan laki-laki adalah seorang pahlawan yang kuat. Masih ingatkah kita dengan buku pelajaran bahasa Indonesia di sekolah waktu dulu?

Ibu memasak di dapur, Ayah bekerja di kantor.

Ada pesan tersembunyi dalam kalimat yang tenar itu. Sedari kecil kita diajarkan bahwa peran perempuan hanya di dalam rumah (domestik), sementara laki-laki di ruang publik. Tak sedikit pula yang menganggap bahwa peran-peran itu adalah sebuah kodrat. Nilainya pun dianggap berbeda, tentunya pekerjaan domestik dinilai lebih kecil dari pada pekerjaan publik.

Dengan kata lain, nilai perempuan dianggap lebih kecil dibandikan dengan laki-laki. Hal yang dianggap ‘sederhana’ ini memberikan dampak buruk yang sangat banyak dan besar pada kehidupan kita, baik dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Prinsip utama dalam relasi sehat yaitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan, dan tidak ada unsur pemaksaan maupun dominasi di dalamnya. Bisa diartikan dengan adanya kesalingan. Yaitu saling memberi dan menerima, dalam hal apapun itu

Maka, membangun relasi yang sehat dan setara dengan pasangan itu juga penting. Bisa dimulai dari lingkungan kecil dahulu, atau dengan keluarga, teman, sahabat. Sebab, hal itu merupakan bentuk usaha untuk mengurangi angka kekerasan, baik kekerasan dalam hubungan bermasyarakat secara luas, maupun kekerasan dalam pacaran dan kekerasan dalam rumah tangga sekalipun.

Referensi: ZINE, Tentang Relasi Sehat, @SHEFEMELLE, April 2017, Lady Fast #2.