Fakta Menjalin Hubungan Platonik Itu?

#UNALAfact

Oleh : Septia Annur Rizkia


Kita akan melanjutkan pembahasan yang sempat tertunda. Ngomongin hubungan platonik, kira-kira sudah pada paham ya, terkait pengertiannya. Dalam hubungan platonik, kepedulian dan cinta ditampilkan melalui kata-kata dan bahasa tubuh.

Eits, jangan salah paham dulu ya, makna dari kata cinta itu luas sekali, bisa cinta dengan keluarga, sahabat, teman, maupun pasangan. Sedangkan cinta dalam pertemanan atau persahabatan platonik, yaitu sebuah cinta yang hadir tanpa disertai suatu getaran asmara.

Jadi, sebatas ketertarikan emosional saja, tidak sampai melibatkan fantasi romantis maupun dorongan seksual. Walaupun begitu, hubungan platonik juga bisa berubah menjadi hubungan erotis atau romantis.

Sebagaimana ulasan sebelumnya, faktor ciye-ciye dari sekeliling merupakan salah satu akar penyebabnya. Tapi, paling sering kekuatannya terletak pada persahabatan yang kuat.

Fakta Mengatakan

Sebuah survei dari 1.450 anggota situs kencan Match.com mengungkapkan, 83% laki-laki dan perempuan bisa menjadi teman platonik. Dilansir dari Psychology Today, dr. Sapadin, seorang psikolog dari Valley Stream, New York, percaya bahwa laki-laki dan perempuan bisa menjadi hanya teman.

Gagasan yang mengatakan bahwa lak-laki dan perempuan bergaul bersama semata-mata hanya untuk niat romantis, berasal dari konstruk sosial ketika perempuan tinggal di rumah, sementara laki-laki pergi bekerja.

Namun saat ini sendiri, sudah banyak peneliti yang mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan membangun relasi untuk bisa bekerja sama, baik di wilayah publik maupun domestik. Sebab bersosialisasi dengan sesama manusia, merupakan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial.

Maka, pandangan yang mengatakan bahwa hubungan laki-laki dan perempuan kaitannya hanya untuk romansa, perlu kita kikis seminimalisir mungkin.

Apa sih Faktor Lainnya?

Media menjadi salah satu faktor yang membentuk konsep berpikir bahwa kedekatan laki-laki dan perempuan adalah hubungan sepasang kekasih.

Monsour penulis buku Women and Men as Friends mengatakan, dengan adanya televisi dan film yang mengandalkan formula pertemanan kekasih, tidak mengherankan kalau kita selalu percaya, jika seorang laki-laki dan perempuan bergaul bersama, maka mereka harus saling tertarik secara romantis.

Sebagaimana ulasan Psychology Today, alasan masyarakat memilih romansa sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan yaitu, untuk menjaga siklus hidup atau regenerasi dengan melahirkan seorang keturunan.

Hal itulah yang kadang menjadikan pertemanan lintas jenis kelamin diabaikan atau diremehkan. Sebab, tidak banyak pertemanan laki-laki dan perempuan platonik yang dipertontonkan di media, sehingga tidak jarang pula yang bingung ketika menyikapi hubungan tersebut.

Apa aja Manfaat dari Hubungan Platonik?

Nah, bicara manfaat, apa sih di dunia ini yang tidak memiliki manfaat? Eits, salah satunya ya, ngurusin hidup orang tuh, nggak ada manfaatnya. Hmmm, intermizo aja kok, hehe.

Gini, biasanya ada perasaan mutual yang tidak bisa didapatkan dari sesama jenis kelamin, yang membuat seseorang membutuhkan kedekatan dengan lawan jenis tersebut. Manfaat hubungan platonik pun beragam, diantaranya:

  1. Bermanfaat secara emosional.
  2. Bisa belajar terkait relasi gender yang setara.
  3. Memahami sifat maskulin maupun feminin yang sama-sama bisa dimiliki oleh laki-laki dan perempuan.
  4. Bisa saling berbagi pandangan serta bercerita antar lawan jenis, ataupun saling curhat.

 

Tantangan

Tantangan pasti tetap ada ya, namanya juga hidup. Bukankah begitu sobat? Nah, apa pun tantangan persahabatan laki-laki dan perempuan, para peneliti sepakat bahwa untuk berhasil sebagai teman, keduanya harus menegosiasikan secara terbuka dan jujur ​​apa arti hubungan mereka, serta menetapkan batas-batas yang ada.

Nah, gitu dulu ya sobat. Jangan lewatkan ulasan-ulasan dari kami selanjutnya ya. Next, akan kita sambung lagi.

Referensi: Psychology Today