Perjuangan Pendidikan Kespro yang Inklusi bagi Semua Remaja

Seminar “Perjuangan Pendidikan Kespro yang Inklusi bagi Semua Remaja”

#UnalaActivity

Oleh Alvi

Minggu, 25 Agustus 2019


 

“Pendidikan kespro tidak hanya tentang reproduksi, seperti biologi, tapi pendidikan kespro adalah bagian dari wellbeing education, yang didalamnya juga termasuk gender, comprehensive sexuality education dan social and emotional learning.” 

Kalimat diatas menjadi pembuka paparan dari narasumber pertama yaitu dr. Sandeep Nanwani – UNFPA pada Seminar dengan tema “Perjuangan Pendidikan Kespro yang Inklusi bagi Semua Remaja”  yang diselenggarakan UNALA dalam rangka merayakan Hari Remaja Internasional 2019 di Ballroom Crystal Lotus Hotel, 24 Agustus 2019.

Dilanjut narasumber kedua, mbak Anggiasari Puji Aryatie yang menyorot minimnya pengetahuan difabel tentang kespro karena difabel dianggap aseksual dan kebutuhannya dikesampingkan karena kedisabilitasannya. Mbak Anggi menegaskan, selain mengetahui kebutuhan difabel, penting juga pelibatan orangtua difabel untuk diedukasi agar dapat menyampaikan kespro kepada anaknya melalui media yang aksesibel sesuai ragam disabilitasnya.

Dra. Yustina Sri Rahayu dari Dikpora DIY, narasumber ketiga, berharap dengan adanya pendidikan kespro, khususnya dengan adanya modul kespro untuk murid SMP dan SMA di Kulonprogo, para remaja siap memasuki kehidupan berkeluarga sesuai usianya, baik dari aspek pendidikan, ekonomi, dll dengan menerapkan pacaran sehat hingga pernikahan.

Kak Ndaru Tejo Laksono, Youth Advisory Panel UNFPA bercerita bahwa hingga saat ini kespro masih dianggap tabu diperbincangkan secara terbuka, bahkan masih banyak remaja yang mempercayai mitos-mitos seperti ciuman bisa bikin hamil lho!

Kak Putri Khatulistiwa, SRH Officer UNALA menekankan bahwa pendidikan harus menghasilkan perubahan di tataran sikap dan perilaku, tidak hanya pengetahuannya saja. Layanan kesehatan ramah remaja UNALA menjadi ruang deteksi awal untuk kasus-kasus yang dialami remaja.

“Pendidikan kespro harus inklusif dan aksesibel bagi semua orang, termasuk difabel.” kata Mbak Anggi sebagai closing statement Seminar kali ini.

Nah, Sobat UNALA yang kemarin hadir dan belum sempet komen atau nanya-nanya kepada lima narasumber, boleh nih nulisin kesan-kesan atau pertanyaan di kolom komentar di bawah yaaa…