Pertemuan Koordinasi bersama Stakeholder dan OPD DIY: Upaya Pemenuhan Hak-hak Kesehatan Reproduksi Remaja DIY

,

Halo, sobat UNALA!

Layanan kesehatan reproduksi ramah remaja yang disediakan oleh UNALA merupakan salah satu upaya pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi remaja di D.I. Yogyakarta. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu adanya koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari tokoh masyarakat, remaja, hingga pemerintah. 

Sebagai salah satu program UNALA, telah diselenggarakan Pertemuan Koordinasi bersama Stakeholder dan  Organisasi Perangkat Daerah (OPD) DIY pada Selasa, (2/7) kemarin.

Acara yang berlangsung di Crystal Lotus Hotel ini dihadiri oleh organisasi perangkat daerah di tingkat provinsi, Stakeholder, komunitas remaja, serta dokter dan bidan mitra UNALA.

Acara dibuka dengan sambutan dari Program Manajer UNALA, Bapak Henri Puteranto serta Ibu Weni Muniarti yang merupakan perwakilan dari Kementerian Kesehatan RI.

Dalam sambutannya Ibu Weni menyampaikan harapannya agar tercipta dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh pihak bagi program ini.

“Jika 20 tahun lalu saya tidak memiliki kesempatan memperoleh informasi kesehatan, remaja sekarang telah mempunyai akses tersebut melalui UNALA. Tentunya agar program ini berjalan lancar, perlu adanya dukungan dari dari orang tua dan masyarakat, partisipasi aktif dari remaja, serta kerja sama dengan pemerintah maupun pihak lainnya,” tutur Ibu Weni Muniarti.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang terdiri dari unsur OPD, mitra UNALA dan Stakeholder mengenai persoalan terpenting yang dialami oleh remaja dan siapa saja yang berperan untuk menangani persoalan tersebut. Masing-masing kelompok kemudian melakukan presentasi hasil diskusi.

Hasil diskusi menyimpulkan bahwa remaja di DIY masih membutuhkan akses informasi mengenai hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) yang valid agar terhindar dari risiko kespro seperti kehamilan tidak diinginkan, bullying hingga pernikahan dini.

Selanjutnya, dalam diskusi panel Kak Putri Khatulistiwa menyampaikan bahwa layanan kesehatan juga dapat mendeteksi kasus kekerasan yang dialami remaja.

“Layanan kesehatan bisa menjadi pintu awal untuk deteksi kasus yang dialami remaja. Itulah mengapa kami selalu menekan pada remaja agar mengakses informasi kesehatan tidak harus menunggu sakit,” pungkas Kak Putri selaku Sexual Reproductive Health (SRH) UNALA.

Senada dengan hal tersebut, Bidan Riana Hermawati, salah seorang bidan mitra UNALA bercerita tentang remaja korban kekerasan ayahnya yang datang ke klinik.

“Awalnya remaja tersebut diantar tetangga untuk mengobati luka bakar di pundak hingga dadanya. Sebab letak luka yang tidak wajar, akhirnya diketahui bahwa remaja tersebut disiram air panas oleh ayahnya sendiri. Saya langsung menghubungi UNALA hingga akhirnya kasus selesai dan remaja tersebut mendapat perlindungan,” cerita bidan yang aktif disapa Bidan Riana.

Pada sesi tanya-jawab peserta dengan panelis, dapat disimpulkan bahwa layanan kesehatan dapat menjadi pintu pertama dalam menangani kasus kekerasan yang dialami remaja. Untuk itu, isu kespro menjadi tidak hanya menjadi tugas sektor kesehatan, tetapi juga menjadi tugas bersama sektor-sektor lainnya seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan.

Turut hadir dalam acara, Ibu Novi Anggraini (Global Affairs Canada) menyampaikan bahwa hasil capaian program UNALA dapat memuat informasi yang lebih informatif dan berguna bagi berbagai pihak.

Untuk menutup acara, dr. Margaretha Sitanggang dari UNFPA berpesan agar semua sektor dapat bekerja sama dalam upaya penanganan persoalan kesehatan reproduksi remaja di DIY.


#UNALAactivity