Tips Menjadi Teman Sebaya

Halo, sobat UNALA!

Jika kemarin kita sudah bahas tentang curhat-curhatan, ini waktunya buat kita bahas tentang teman sebaya.

Mungkin teman-teman ada yang sudah familiar dengan istilah teman sebaya karena dulu tergabung dengan Pendidikan Remaja Sebaya (PRS). Namun, bagi sobat UNALA yang belum pernah ikut kegiatan tersebut nggak usah khawatir, ya!

Teman sebaya adalah teman yang amat akrab dengan kita karena jenis kelamin yang sama, usia berdekatan, rumah bersebelahan, bersekolah di tempat yang sama, hobi yang sama, dan seterusnya. Dengan demikian, di antara teman sebaya hampir tidak ada rahasia lagi. Teman sebaya menjadi teman senasib sepenanggungan. Karena keterdekatannya, teman sebaya bisa saling mempengaruhi sesuatu menuju kebaikan. Sebaliknya, kesetiakawanan di antara teman sebaya bisa pula saling menjerumuskan ke dalam hal-hal yang berisiko merugikan.

Tapi, menjadi teman sebaya ataupun menemukannya itu susah-susah-gampang. Apa aja sih itu?

  1. Mencari dan mendapatkan teman sebaya yang bisa saling mengajak pada kebaikan dan bukannya mengajak pada hal-hal yang kurang baik;
  2. Menjadi contoh bagi teman sebaya lain, baik dalam sikap maupun kepribadian;
  3. Menempatkan diri sebagai teman sebaya teman-teman di lingkungan sekolah atau lingkungan bermain, yang dipercaya akan dapat membantu meringankan beban kita.

Bagaimana sobat UNALA? Apakah kalian siap menerima tantangan menjadi teman sebaya bagi remaja lain? Eits, UNALA akan bagikan tips mudah buat kalian. Yuk, kita simak!

1. Dengarkan dan Tunjukan Simpatimu

 

 

Pada tahap ini yang penting buat kita mendengarkan keluhan teman yang sedang curhat. Tugas kita ialah menunjukan rasa simpati dan tertatik dengan ceritanya. Hal ini akan membantu dia mengungkapkan masalah yang sedang ia derita. Jangan beri nasihat apapun pada tahap ini. Dengan menceritakan permasalahan kepada orang yang dipercaya, ia sebenarnya telah menyelesaikan 50% dari permasalahan yang mengganjalnya.

 

2. Pelan-Pelan Berikan Nasihat Tanpa Menggurui

 

Di tahap ini, baru deh pelan-pelan masukkan nasihat maupun ide pada teman yang sedang berkeluh-kesah. Buat suasana senyaman mungkin dengan tidak terkesan menggurui. Tidak perlu banyak dan tergesa-gesa. Akan lebih baik jika temanmu yang dapat menyimpulkan sendiri solusinya.

3. Terus Beri Semangat

 

 

Nasihat  yang sudah  dimasukkan harus  dipelihara. Ini karena  pembentukan atau perubahan perilaku memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus-menerus dan berulang-ulang guna mengajak teman menuju ke arah positif. Jadi jangan menyerah duluan untuk terus memberi semangat.

 

4. Beri Rujukan Pada Ahlinya

 

Kita sebagai manusia mempunyai batas-batas tertentu. Kadang masalah teman bukan merupakan kompetensi kita. Oleh karena itu kita dapat melakukan rujukan kepada ahlinya. Misalnya temanmu mengeluh disminore yang amat parah hingga pingsan. Daripada memberikan ide yang berasal dari mitos, kita bisa lho merujuk mereka pada dokter atau bidan. Nggak usah khawatir, karena sekarang ada juga dokter dan bidan yang ramah remaja, yang siap mendengarkan keluhan kesehatan remaja, dan juga mempunyai waktu konsultasi yang lebih lama.

Di mana lagi kalau bukan di UNALA. Bahkan teman-teman dapat mengaksesnya secara gratis menggunakan voucher dari kami. Caranya mudah banget! Tinggal hubungi aja customer line yang tertera, isi biodata, dan kalian langsung mendapatkan voucher secara gratis.

Kami tunggu kunjungan kalian, ya!



Referensi :

Satoto. (2007). Pelatihan Remaja Sebaya Tentang Kesehatan dan Kesejahteraan Remaja. Jakarta.