Yuk, Kenalan dengan BERANI Project!

,

 

Halo, sobat UNALA!

Udah tau belum tentang BERANI Project? Mungkin bagi sobat yang udah follow UNALA sejak dulu udah nggak asing lagi dengan project ini.

Apa itu BERANI Project?

BERANI (Better Reproductive Health and Right for All in Indonesia) merupakan proyek yang digagas oleh Pemerintah Kanada, Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), UNFPA (United Nations Population Fund) serta UNICEF (United Nations Children’s Fund).

Apasih yang melatarbelakangi proyek ini?

“Kanada percaya bahwa wanita dan perempuan dapat mengubah dunia, jika diberi kesempatan yang sama untuk sukses, mereka bisa menjadi agen perubahan yang kuat,” kata H.E. Peter MacArthur, Duta Besar Kanada untuk Indonesia ketika peluncuran BERANI Project.

Selain itu, UNICEF juga berkeinginan bahwa setiap perempuan mempunyai hak untuk menyelasaikan pendidikannya.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap perempuan memiliki hak dan kemampuan untuk menyelesaikan pendidikan mereka, untuk memasuki dunia kerja formal, dan untuk berkontribusi bagi masyarakat dan ekonomi. Dengan menunda pernikahan dan kehamilan, anak perempuan akan lebih mampu memelihara dan merawat anak-anak mereka, yang mengarah pada keluarga yang lebih sehat secara turun-temurun,” ungkap Debora Comini, Perwakilan UNICEF di Indonesia.

Apa fokus dari BERANI Project?

“Fokus dari Program BERANI adalah pada penanganan hak untuk mengakses perawatan kesehatan reproduksi yang berkualitas oleh semua, terutama perempuan dan anak perempuan yang terpinggirkan dan kurang beruntung. Memberdayakan perempuan dan anak perempuan, dan memenuhi kebutuhan mereka akan pendidikan dan kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi, diperlukan untuk kemajuan individu dan pembangunan yang adil,” kata Perwakilan UNFPA di Indonesia, Dr. Annette Sachs Robertson.

Jika diterjemahkan, BERANI mempunyai arti sebagai “Hak Kesehatan Reproduksi yang Lebih Baik untuk Semua di Indonesia.” Hak ini memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kesehatan reproduksi dan hak-hak bagi perempuan dan kaum muda;
  2. Mengurangi angka kematian ibu;
  3. Meningkatkan akses ke informasi dan layanan kesehatan reproduksi kepada kaum muda; dan
  4. Mengurangi praktik berbahaya dan kekerasan berbasis gender .

UNALA juga menjadi bagian program ini, lho!

Dengan didukung oleh UNFPA, UNALA juga tergabung dalam proyek yang diluncurkan pada 18 Desember 2018 lalu di Hotel Ayana, Jakarta. Hal ini tentunya karena UNALA mempunyai pandangan yang sama dengan BERANI, yaitu pemenuhan informasi dan akses kesehatan reproduksi bagi remaja usia 15-24 tahun.

Saat peluncuran proyek tersebut, beberapa tim dari UNALA seperti Kak Tantri, Kak Ndaru juga ikut berpartisipasi di dalamnya. Bahkan, Kak Putri Khatulistiwa juga menyampaikan peran anak muda dan penyediaan informasi serta layanan kesehatan reproduksi remaja untuk pemberdayaan perempuan saat diskusi berlangsung.

Di sana, Kak Putri bercerita soal pengalamannya dalam menjalankan program UNALA dan menghadapi beragam persoalan remaja di lapangan.

Beberapa waktu yang lalu, UNALA bersama UNFPA dan perwakilan Kedutaan Besar Kanada melakukan audiensi dengan para pemangku kebijakan di bidang kesehatan, yakni bersama Dinas Kesehatan DIY.

Dalam dialog tersebut Ibu Novi Anggriani selaku Perwakilan dari Kedutaan Besar Kanada memperkenalkan BERANI project dimana UNALA menjadi salah satu bagiannya

Ibu drg. Pembayun mengapresiasi program BERANI di Yogyakarta yang juga dianggap memiliki semangat dan visi yang sama dengan program kesehatan di DIY. Beliau juga menyampaikan bahwa isu stunting saat ini tengah menjadi program yang digencarkan di bidang kesehatan, baik di tataran nasional maupun daerah. Stunting, atau pengkerdilan pada anak dapat terjadi pada seseorang ketika asupan gizi dan nutrisi tidak terpenuhi dengan baik sejak remaja.

Dengan semangat bersama untuk memenuhi hak dan layanan kesehatan bagi remaja, maka UNALA berkomitmen untuk senantiasa bersinergi dengan Dinas Kesehatan DIY dan juga Dinas Kesehatan di kabupaten/ kota.

Sumber: BERANI Peoject