Training for Youth Volunteers on ASRH and Community Mobilization, Day 2

UNALA mengadakan Training for Youth Volunteers on ASRH and Community Mobilization selama 3 hari, selama 8-10 Maret 2019. Sebelum memulai sesi, kak Itas sebagai fasilitator mengajak peserta remaja untuk kembali mengingat materi yang disampaikan pada hari pertama. Boneka Otong menjadi media cerita yang dipilih dalam sesi ini. Teman-teman remaja diminta untuk bercerita kepada Otong sebagai cara belajar sebelum mendampingi remaja.

Kak Indana Lazulva menjadi pemateri pada sesi pertama di hari ke dua (9/3) dengan tema “Pendidikan Gender Untuk Remaja”. Peserta diajak untuk mengidentifikasi apa itu gender dan pengaruhnya terhadap laki-laki dan perempuan melalui sticky note. Dari pengidentifikasian tersebut disimpulkan bahwa gender (jenis kelamin sosial) dan seks (jenis kelamin biologis) memiliki perbedaan. Seks merupakan hal yang kita bawa sejak lahir dengan ciri fisik, seperti berpenis, bervagina, berpayudara, lainnya. Berbeda dengan itu, gender merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh masyarakat dan masih bisa dipertukarkan, seperti agresif, pasif, feminin, maskulin, dan lainnya. Konstruksi gender yang disalah artikan dapat memunculkan diskriminasi dan stigma terhadap jenis kelamin tertentu. Laki-laki bisa saja memiliki sifat feminin, seperti memiliki rasa kasih sayang dan pengasuhan dan perempuan bisa juga memiliki sifat maskulin. Dengan dapat dipertukarkannya konstruksi gender, maka perempuan dan laki-laki dapat menjadi partner yang setara dalam masyarakat.

Di lingkungan remaja, pembagian dan pertukaran gender dapat coba untuk diterapkan. Visa misalnya bercerita bagaimana ia menerapkan konsep partner setara saat ia bernegosiasi dalam masalah “traktir” dengan pasangannya. Menurutnya, bergantian dalam mentraktir dapat membebaskan perempuan maupun laki-laki dari konstruksi gender yang merugikan kedua belah pihak.

Pada sesi ke dua dr. Sandeep dari UNFPA menjelaskan mengenai Adolescent Sexual and Reproductive Health (ASRH). Menurutnya, pendidikan kespro yang komprehensif sangat diperlukan untuk menjawab permasalahan kesehatan reproduksi remaja, antara lain dalam memberikan edukasi tentang pacaran sehat, kesetaraan gender, dan lainnya. Banyak mitos yang beredar di masyarakat bahwa pendidikan kespro akan mendorong remaja Indonesia untuk melakukan hubungan seks. Faktanya pendidikan kespro justru menunda keinginan remaja untuk melakukan hubungan seksual karena lebih paham mengenai seks yang bertanggung jawab.

Dalam mencapai tujuan UNALA, volunteer sangat berperan penting dalam mendorong remaja untuk mendapatkan pendidikan dan pelayanan kesehatan reproduksi. Sensitasi dan pendampingan untuk mengakses pelayanan merupakan skill yang harus dimiliki oleh volunteer. Volunteer tidak boleh memiliki sifat judgemental dan menarik asumsi, namun harus memberikan remaja kesempatan untuk bercerita tentang dirinya dan apa yang dikeluhkan. Selain itu, volunteer juga perlu  memetakan usia remaja. Hal ini nantinya berkaitan dengan sikap yang harus diberikan. Dengan mengetahui usia dan karakteristik remaja tersebut, dr.Sandeep berharap volunteer UNALA dapat membantu remaja memahami kesehatan reproduksi sesuai dengan kebutuhan mereka agar lebih efektif dan tepat sasaran.

Sesi ketiga dari Training for Youth Volunteers on ASRH and Community Mobilization kak Suharsih berbagi pengalamannya tentang “Pengorganisasian Komunitas”. Perlunya pengorganisasian komunitas, khususnya remaja untuk berbicara tentang kesehatan reproduksi dikarenakan masalah-masalah yang dihadapi oleh remaja, seperti pelayanan yang tidak ramah remaja, baik sikap dokter maupun jam layanannya. Hari ke dua Training for Youth Volunteers on ASRH and Community Mobilization ditutup oleh kak Tere yang membahas mengenai komunikasi efektif.