Advokasi oleh Remaja

Sabtu, 15 Desember 2018 – UNALA kembali mengadakan Training for Young Leaders dengan mengusung tema “Advokasi Remaja untuk Pemenuhan Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksual” yang berlangsung di Hotel Pesonna Tugu, Yogyakarta.

Hari pertama pada Jumat, 14 Desember 2018 diawali dengan sambutan oleh Youth Engagement Program UNALA, Tantri Swastika, serta perkenalan masing-masing peserta.

Sebelum memasuki acara, Anastasia Sukiratnasari, fasilisator sekaligus pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sembada, menjelaskan maksud dan tujuan pelatihan, yakni mengenai pentingnya remaja mengenal advokasi.

“Advokasi dapat membangun dan mengubah kesadaran dalam masyarakat,” ujar beliau.

Advokasi sendiri menurut CARE International merupakan proses mempengaruhi pembuat kebijakan yang dilakukan secara terencana. Walau demikian, advokasi tidak hanya dapat dilakukan oleh seseorang dengan latar belakang pendidikan hukum, lho, Sobat UNALA, tetapi bahkan juga bias dilakukan oleh semua kalangan.

Bagaimana mungkin?

Pada dasarnya bentuk kegiatan dari advokasi ada dua, yaitu litigasi dan nonlitigasi. Litigasi sering berkaitan dengan prosedural hukum formal, sedangkan nonlitigasi bersifat kerja-kerja politik seperti membangun jaringan, bentuk inilah yang dapat ditempuh oleh paralegal.

Paralegal adalah orang-orang yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan hukum yang formal, mereka mempelajari hukum secara informal karena mempunyai kemauan untuk belajar hukum guna menolong orang lain. Oleh karena itu, remaja juga dapat melakukan advokasi, terutama bagi teman sebayanya karena masih banyak hak-hak anak dan remaja yang belum terpenuhu. Padahal remaja sangat berperan bagi masa depan suatu bangsa, apalagi mengingat jumlah remaja Indonesia mengambil 33% bagian dari total penduduk atau sekitar 65 juta orang yang 15 tahun ke depan akan berperan dalam kegiatan ekonomi dan perubahan sosial.

Bagaimana sobat UNALA? Apakah tertarik menjadi paralegal terutama bagi teman-teman yang membutuhkan bantuan kalian? (MRA)