Kanker serviks atau kanker mulut rahim merupakan kanker nomor dua yang paling banyak diderita oleh perempuan di seluruh dunia dan merupakan penyebab kematian akibat kanker yang paling utama, khususnya bagi perempuan di negara-negara berkembang.  Pada tahun 2000 diperkirakan terdapat 370.000 kasus dari sekitar 470.600 kasus baru kanker serviks dari seluruh dunia yang diderita oleh perempuan di negara-negara berkembang.  Dari jumlah tersebut lebih dari separuh berasal dari negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Kanker serviks juga menjadi penyebab kematian dari 233.400 perempuan di dunia setiap tahunnya.

Penyebab utama tingginya angka kejadian kanker serviks di negara-negara berkembang adalah karena tidak adanya program screening / pemeriksaan yang efektif yang ditujukan untuk mendeteksi secara dini kanker serviks. Jika dibandingkan dengan wanita di negara-negara maju, amat sedikit jumlah perempuan di negara berkembang yang mempunyai akses pada pelayanan deteksi dini kanker serviks.  Diperkirakan hanya lima persen perempuan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, yang pernah menjalani pemeriksaan untuk deteksi dini kanker serviks selama lima tahun terakhir. Di Finlandia dan Islandia, suatu program screening nasional untuk deteksi dini kanker serviks telah dilaksanakan sejak tahun 1960 dan mencakup hampir seluruh perempuan di negara tersebut.  Program ini dapat menurunkan angka kematian sebagai akibat kanker serviks sebanyak 80 persen setelah kurun waktu 20 tahun.  Di Amerika Serikat yang cakupannya masih kurang menyeluruh, angka kematian sebagai akibat kanker serviks dapat menurun sebanyak hampir 70 persen dalam waktu 50 tahun semenjak program tersebut dimulai.

Faktor Risiko yang diperkirakan dapat menyebabkan kanker serviks antara lain :

  • Diet

Diet rendah karotenoid dan defisiensi asam folat termasuk dalam faktor risiko kanker serviks. Makanan dengan karotenoid dan asam folat memiliki kandungan antioksidan yang dapat mengurangi risiko kanker serviks. Beragam makanan yang mengandung karotenoid meliputi sayur dan buah-buahan berwarna oranye (labu kuning, wortel, ubi manis dan lain-lain) sedangkan makanan dengan kandungan asam folat meliputi sayur-sayuran hijau, biji-bijian (gandum, biji bunga matahari

  • Etnis dan Faktor Sosial Perempuan

di kelas sosio-ekonomi yang paling rendah, terdapat faktor risiko lima kali lebih besar daripada perempuan di kelas yang lebih tinggi. Hubungan ini mungkin dikacaukan oleh hubungan seksual dan akses ke sistem pelayanan kesehatan. Di Amerika Serikat, ras negro, hispanik, dan perempuan Asia memiliki insiden kanker serviks yang lebih tinggi daripada wanita ras kulit putih. Perbedaan ini mungkin mencerminkan pengaruh sosio-ekonomi.

Pencegahan memiliki arti yang sama dengan deteksi dini atau pencegahan sekunder, yaitu pemeriksaan atau tes yang dilakukan pada orang yang belum menunjukkan gejala penyakit untuk menemukan penyakit yang belum terlihat. Program pemeriksaan/ screening yang dianjurkan untuk kanker serviks menurut WHO ialah screening pada setiap perempuan minimal satu kali pada usia 35 – 40 tahun. Jika fasilitas tersedia, lakukan tiap 10 tahun pada usia 35 – 55 tahun. Jika fasilitas tersedia lebih, lakukan tiap 5 tahun pada wanita usia 35 – 55 tahun. Untuk langkah ideal atau optimalnya, lakukan pemeriksaan setiap 3 tahun di rentang usia 25 – 60 tahun. Berikut ragam upaya untuk pencegahan kanker serviks.

  1. Test PAP

Test PAP merupakan metode mengambil sampel sel dari leher rahim untuk memastikan apakah ada ketidaknormalan yang dapat mengarah kepada kanker serviks.

  1. IVA

IVA merupakan tes visual dengan menggunakan larutan asam cuka dan larutan iosium lugol pada serviks, untuk melihat perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya adalah untuk melihat adanya sel yang mengalami displasia (pembentukan dan perkembangan sel secara tidak beraturan) sebagai salah satu metode screening kanker mulut rahim.

  1. Penundaan Hubungan Seksual

Menunda aktivitas seksual atau tidak melakukan hubungan seksual hingga menikah (atau setelah usia 20 tahun) dan secara monogami (berpasangan dengan satu partner), akan mengurangi risiko kanker serviks secara signifikan.

  1. Penggunaan Vaksin HPV

Vaksinasi HPV yang diberikan kepada pasien bisa mengurangi infeksi Human Papiloma Virus, karena mempunyai kemampuan proteksi hingga lebih dari 90%.

Sumber: Gaster, Jurnal Ilmu Kesehatan  Vol 31, No 4 | Oktober, 2007 “Upaya Tindaklanjut Deteksi Dini Kanker Serviks.

Hashtag:

#UNALAfact

#kankerserviks

#kankermulutrahim