Berbicara mengenai seksualitas selalu menarik perhatian, ibarat saat makan ayam kremes yang krezz rasa dan sensasinya.

Topik satu ini merupakan bahasan yang heboh bagi masyarakat, meski merupakan hal yang tabu. Sekalinya nyentil langsung otak menerawang nun jauh disana. Tidak ada yang salah atau pun benar mengenai pemikiran seperti itu, karena konstruksi masyarakat yang seperti itu. Meski demikian kurang tepat bila mengidentikkan pembahasan seksual dengan hubungan seks.

Mencari informasi kesehatan reproduksi saat di café atau warnet, ditertawakan waiters atau penjaga warnet yang menganggap kita mesum. Bertanya ke orang tua, di cubit, husss itu urusan orang dewasa. Bertanya ke guru, dijawab belum saatnya kamu tahu. Sampai jalan ke meja registrasi di rumah sakit seorang diri untuk konsultasi ke dokter kelamin, disambut suster dengan wajah heran beserta ribuan pertanyaan diatas kepala, “ini anak main apa sampai kesini? Dengan siapa? Sudah berapa kali? Apa dia? Kalau iya berapa bayarannya? Kok bisa?”.

Mungkin itulah respon yang akan didapat oleh remaja ketika mencari informasi menyangkut seksualitas. Lalu kemana untuk mendapat informasi yang tepat? Hanya untuk tahu kebaikan diri sendiri susahnya semacam nangkep belut dengan tangan berlumuran olive oil saja.

Kurangnya pendidikan seksual dan reproduksi mengakibatkan kesalah pahaman dikalangan masyarakat termasuk bagi remaja. Ketika asyik mengobrol dengan teman menyangkut seksualitas, tiba – tiba ada yang ngoceh, “awas kebanyakan mastrubasi biking tulang kopong”. Lalu dalam dalam hati kita pasti bertanya was – was, “apakah benar? Kok bisa? Apa hubungannya tulang dan mastrubasi?”

Ketiadaan akses yang memadai telah membuat mitos – mitos yang beredar tetap langgeng di masyarakat hingga kini. Bila dibantah kalau sekarang sudah ada internet yang semua hal ada disitu dan melimpah ruah. Ini pun juga tidak seratus persen memecahkan masalah, karena terlalu banyaknya informasi ditambah mitos dan fakta yang bercampur layaknya gado – gado, membuat eneg untuk membacanya. Tidak lain karena bingung dan ketidak mampu untuk memilah mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Persoalan remaja erat kaitannya dengan konstruksi sosial di masyarakat, terutama akan pemahaman seksualitas. Dalam masyarakat, seksualitas hanya dipahami sebagai hubungan seks. Padahal seksualitas mencakup berbagai aspek, seperti yang dikemukakan oleh WHO sesuai definisi kerja 2002 mencakup aspek biologis, psikologi, sosial, ekonomi, politik, budaya, etika, hukum, sejarah, religi dan spiritual.

Trend peningkatan angka kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD) pada usia dibawah 25 tahun menunjukkan bahwa pemahaman remaja akan seksualitas dan kesehatan reproduksi perlu ditingkatkan. Ditambah ketidak hati – hatian dalam perilaku seks dikalangan remaja.

Dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI), diketahui bahwa pada remaja di desa dengan rentang usia 15 – 19 tahun terjadi peningkatan angka kehamilan dari 27 per 1.000 perempuan di tahun 2007 menjadi 69 per 1.000 perempuan pada 2012. Sementara di wilayah perkotaan dari 26 per 1.000 perempuan naik menjadi 32 per 1.000 perempuan.

Andaikata KTD didaasarkan pada perilaku seks, maka ini menunjukkan adanya perilaku seks yang tidak sehat. Sebab pada usia tersebut (dibawah 19 tahun) organ reproduksi perempuan belum matang sepenuhnya. Sehingga ini meningkatkan resiko bagi ibu dan bayi saat melahirkan, semisal pendarahan. Pendarahan sendiri menyumbang kematian ibu hamil sebanyak 32 persen, disusul hipertensi (28 persen), dan infeksi (5 persen).

Selain itu perilaku seks beresiko berkontribuasi pada penularan penyakit kelamin, seperti HIV, sifilis, gonorhea, dan lain – lain. Pada remaja yang kurang paham dalam kesehatan reproduksi, cenderung melakukan hubungan seks tanpa menggunakan pengaman. Meski tidak seratus persen manjamin, namun efektif untuk meminimalisir.

Persoalan ini juga seringkali menimbulkan permasalahan lainnya, seperti pernikahan dini, drop out, aborsi, single parent, dan lainnya. Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) pada tahun 2010 menunjukkan pernkahan dini (15 – 19 tahun) sebanyak 46,7 persen dan kelompok usia 10 hingga 14 tahun sebesar 5 persen.

Memang aneh di masyarakat kita, membicarakan seks ditabukan, giliran ada yang kebobolan disalahkan. Seperti inilah hasil dari kurangnya pemahaman akan seksualitas dan kesehatan reproduksi. Yang harusnya dirangkul untuk diedukasi justru menjadi objek yang galau karena selalu bingung tanya sana atau sini, begini atau begitu?

Oleh karena itu upaya untuk mengedukasi merupakan suatu keharusan. Ini perlu dilakukan guna menekan berbagai hal yang tidak diinginkan. Apa yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan sesuai dengan usia mereka. Bagi praktisi terkait seharusnya tidak menyamakan dalam menangani remaja dengan mereka yang sudah dewasa baik secara fisik mau pikiran. Remaja cenderung akan sungkan untuk membicarakan hal – hal pribadi di depan orang banyak. Maka dari itu dengan pendekatan face to face akan lebih efisien dalam membicarakan permasalahan pribadi.

Lebih lanjut, labelisasi juga perlu dihilangkan. Karena dengan melakukan labelisasi pada remaja maka akan mengurungkan niat mereka untuk menggali informasi yang tepat.

Penggunaan media guna edukasi juga patut untuk dipertimbangkan. Dengan perkembangan zaman, penggunaan teknologi tidak dapat dihindarkan. Penyediaan akses digital terkait pendidikan seks dan kesehatan reproduksi bagi remaja merupakan terobosan yang layak untuk diterapkan. Semisal dengan meluncurkan aplikasi “See-U” (Sexual Education for Youth) bagi IOS, Android, Windows, maupunun Sailfish. Melalui aplikasi ini remaja memiliki akses untuk membaca ­e-book, berita, info, dan melakukan konsultasi dengan praktisi terkait. Melalui aplikasi ini, maka daya jangkau akan semakin luas, dapat dikatakan efisien dalam waktu, biaya, dan tenaga.

Sudah saatnya remaja dipandang sebagai sasaran kelompok umur yang strategis karena lebih dari separuh komposisi demografi Indonesia dihuni oleh generasi muda. Sebagai remaja, kita juga memiliki hak untuk memperoleh informasi yang tepat. Karena dalam diri kita telah melekat berbagai perangkat penunjang kehidupan tidak terkecuali untuk meneruskan keturunan.

Otak manusia layaknya spons yang selalu menyerap segala benda cair disekitarnya tanpa tahu jenis cairan apa itu. Dengan ilmu dari pemahaman kesehatan reproduksi maka akan mampu memahami informasi yang berterbangan dengan baik, layaknya produk penjernih air yang mampu memfilter air dengan berbagai campurannya menjadi jernih.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply